Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

The Fraud Triangle

21 March 2017
Category: AUDIT
Penulis:         Rif'atul Wirda Enrekawangi, S.E.
The Fraud Triangle

Apakah itu “Akuntansi” dan apa peran dari penyajian pelaporan keuangan?

Akuntansi sering disebut sebagai “bahasa bisnis” karena dapat memfasilitasi
komunikasi mengenai posisi keuangan perusahaan dengan cara yang mudah dipahami oleh berbagai pengguna. Sederhananya, akuntansi melibatkan pengaturan, memelihara, danmeninjau catatan akuntansiperusahaan dalam rangka untukmemahami dengan benar posisi keuangan suatu perusahaan. Ada banyak pengguna dari pelaporan keuangan, baik internal maupun eksternal. Pengguna internal biasanya mengacu pada manajemen, sedangkan pengguna eksternal mengacu kepada investor dan pemberi pinjaman.

Karena banyaknya pengguna laporan keuangan, maka penting untuk pelaporan keuangan menyajikan nilai yang wajar atas posisi keuangannya dan mengungkapkan semua informasi penting mengenai kondisi dan posisi keuangan perusahaan.

Dalam Konsep Pernyataan No.8, tentang Konseptual Kerangka KerjaPelaporan Keuangan yangdikeluarkan oleh ”Financial Accounting Standards Board”, dinyatakan bahwatujuan dari pelaporan keuangan untuk tujuan umum adalahuntuk menyediakan informasi keuangantentang entitas pelaporan yang berguna untuk investorpotensial, pemberi pinjaman, dan kreditur lainnya dalam membuat keputusan tentang penyediaan sumber daya untuk entitas.Oleh karena itu, laporan keuangan utamanya dimaksudkan untuk membantupengguna eksternal dalam mengambil keputusan berinvestasi atau melakukan pinjaman.

Dalam membantu meningakatkan kepercayaan pengguna terhadap suatu pelaporan keuangan, maka dewasa ini “auditor” menjadi salah satu solusi untuk hal tersebut. Bagi banyak orang, peran auditor sangat penting dalam menilai kewajaran dari suatu laporan keuangan. Auditor dianggap dan harus independen untuk meminimalkan bias terlibat dalam suatu perikatan.

Suatu pemeriksaan dilakukan tidak hanya untuk meningkatkan level kepercayaan pada suatu objek, namun juga untuk mengidentifikasi adanya kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi baik disengaja maupun tidak. Pelaporan keuangan merupakan suatu objek yang melewati beberapa proses sehingga menjadi suatu informasi keuangan yang dapat menjadi dasar untuk mengambil keputusan, yang tentunya dapat memberikan keuntungan bagi sebagian orang baik pengambil keputusan ataupun pihak lain yang terlibat.

Kesalahan tidak dapat dihindari oleh setiap insan. Kesalahan merupakan hal yang lumrah terjadi, akibat beberapa faktor internal maupun eksternal. Kesalahan karena faktor internal biasanya merupakan ketidaksengajaan yang bisa diakibatkan karena beban kerja yang tinggi, sehingga membuat pembuat laporan keuangan menjadi stres. Kesalahan karena faktor internal dapat diminimalisir dengan adanya review berjenjang.

Kesalahan lainnya yaitu kesalahan yang bisa diakibatkan oleh faktor luar juga dapat dikategorikan kedalam kesengajaan ataupun ketidaksengajaan. Ketidaksengajaan bisa terjadi jika kurangnya pemahaman atas adanya peraturan terbaru mengenai komponen yang disajikan didalam laporan keuangan ataupun mengenai bisnisnya. Hal ini sering terjadi, mengingat peraturan yang berubah-ubah seiring berjalannya waktu dan semakin majunya perekonomian dan bisnis dunia. Namun, hal ini tidak menjadi masalah yang berarti. Yang menjadi masalah yaitu kesalahan terjadi karena kesengajaan.

Kesalahan karena kesengajaan dapat disebut sebagai kecurangan. Kecurangan dalam laporan keuangan dapat dibagi menjadi dua tingkat, yaitu tingkat bawah dan atas. Kategori tersebut dibagi berdasarkan subjek pelaku kecurangan. Kecurangan di tingkat bawah dapat dilakukan oleh karyawan yang terlibat langsung dalam proses pelaporan. Sedangkan kecurangan pada tingkat atas merupakan kecurangan yang dilakukan oleh manajemen tingkat atas. Untuk kecurangan tingkat bawah, biasanya dapat terjadi karena tekanan ataupun kepentingan pribadi. Di tingkat ini, kesalahan yang ditimbulkan tidak terlalu material sehingga hanya akan terselesaikan di internal perusahaan. Untuk kecurangan di tingkat atas, biasanya terjadi karena adanya kekuasaan yang dapat dikendalikan demi kepentingan beberapa pihak saja. Kecurangan tingkat atas ini sering diidentikkan dengan istilah fraud.

Fraud berarti kesalahan dalam pelaporan keuangan yang terjadi akibat kecurangan. Kecurangan ini biasanya dianggap krusial, karena nilai kesalahan yang material dan merugikan banyak pihak. Pada dasarnya, kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja adalah sama. Keduanya merupakan kesalahan yang diakibatkan oleh suatu subjek. Ada beberapa faktor yang diasumsikan oleh banyak ahli sebagai penyebab terjadinya fraud, yang disepahamkan kedalam “Triangle Fraud”.

Triangle fraud yang pertama kali diciptakan oleh Dr. DonaldCressey merupakan simbol untuk mewakili tiga hal yang mendorong terjadinya suatu fraud. Hal itu terbagi menjadi:

    1. Pressure (Dorongan)

    Pressure merupakan salah satu faktor dasar yang memotivasi seseorang melakukan kejahatan. Contohnya adalah ketika seseorang sedang dalam masalah keuangan, di saat tersebut seseorang cenderung melakukan berbagai cara yang dapat membantu melewati masalahnya. Namun, tidak jarang juga yang hanya terdorong oleh keserakahan.

    2. Opportunity (Kesempatan)

    Opportunity adalah peluang yang memungkinkan fraud terjadi. Biasanya disebabkan karena internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan, dan/atau penyalahgunaan wewenang. Di antara ketiga elemen fraud triangle, unsur opportunity merupakan elemen yang paling memungkinkan untuk diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan control dan upaya deteksi dini terhadap fraud.

    3. Rationalization (Rasionalisasi)

    Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana pelaku mencari pembenaran atas tindakannya, misalnya:

    - Bahwasanya tindakannya untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

    - Masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya berhak mendapatkan lebih dari yang telah dia dapatkan sekarang (posisi, gaji, promosi, dll).

    - Perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak mengapa jika pelaku mengambil bagian sedikit dari keuntungan tersebut.

Semua kecurangan apapun alasannya adalah salah, karena merugikan banyak pihak dan menguntungkan beberapa pihak saja. Semua dapat dicegah mulai dari diri sendiri, dengan membatasi diri pada koridor yang seharusnya. Apapun motifnya, kecurangan tidak akan terjadi jika kita manusia mempunyai pedoman hidup. Karena semuanya balik kepada sifat dasar manusia. Jika seseorang sudah memiliki orientasi pemikiran mengenai siklus kehidupan, dia tidak akan melakukan hal yang dapat merugikan banyak orang demi kepentingan pribadi.

“If we sow goodness, we will get good and when we plant a definite crime, crime anyway we get”

   For Further Information, Please Contact Us!