Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

VALUE BASED LEADERSHIP

25 May 2019
Category: HUMAN RESOURCE
Penulis:         Mega Madya Karlina Sari, S. Psi
VALUE BASED LEADERSHIP

Umumnya di perusahaan yang telah berkembang ketika ingin melakukan penilaian soft competency maupun pengembangan program sumber daya manusia, rata-rata menggunakan kompetensi atau performance appraisal sebagai alat ukur. Ada beberapa perusahaan besar, multinasional, memiliki karyawan yang cukup memadahi yang nyatanya sudah tidak menggunakan kompetensi sebagai alat ukur kinerja perusahaan. Perusahaan tersebut menggunakan nilai-nilai korporasi, yang perlu dipahami secara sungguh-sungguh oleh setiap sumber daya manusainya, bahkan merupakan kartu mati, apabila tingkah laku, pengambilan keputusan, dan tujuan tidak sejalan dengan nilai-nilai yang sudah di tentukan.

Perkembangan zaman yang semakin pesat membuat standar-standar prosedur sering berubah-ubah, maka hal yang memang bisa dijadikan pegangan perusahaan adalah nila-nilai korporasi. Banyak perusahaan yang menganggap nilai perusahaan sebagai sesuatu yang sekedar “nice to have”, memajangnya di dinding-dinding ruang rapat/area perusahaan, akan tetapi implementasinya tidak pernah di prioritaskan. Di Indonesia, nilai Integritas rata-rata terdapat pada nilai-nilai korporasi perusahaan akan tetapi masih kurangnya sumber daya manusia pada perusahaan bersikap transparan bahkan pada kesalahannya sendiri. Dapat dilihat bahwa presentase perusahaan yang benar-benar menjadikan nilai sebagai acuan kinerja masih sedikit.

Schlumberger, sebuah kontraktor perusahaan minyak, yang mengutamakan “safety” di perusahaannya dan segera melengserkan direktur perusahaan ketika terjadi kecelakaan di bawah pimpinannya. Perusahaan ritel sepatu Zappos yang memiliki nilai “creating fun and a little weirdness” nilai tersebut memang benar-benar terimplementasi dan terasa sampai pada pelanggan. Selain itu, perusahaan Ali Baba yang termasuk salah satu terkaya di dunia memiliki nilai yang cukup panjang: “customer first, teamwork, embrace change, integrity, passion, and commitment”. Jack Ma, selaku pemimpin tidak henti-hentina mengumandangkan nilai-nilai tersebut dan mengimplementasikannya. Jack Ma juga menekankah bahwa core values perusahaannya adalah prioritas.

Apa yang dipentingkan pemimpin?

Kultur organisasi terbentuk dari hasil kolektif reaksi dan perilaku manusia di dalamnya, nilai apa yang mereka anut dan bagaimana mereka bereaksi terhadap rangsangan dari dalam maupun luar. Dalam keadaan yang berubah-ubah, nilai korporasilah yang menjadi panduan, bahkan penguat. Harry M. Kreamer dalam bukunya ”From Values to Action” menggambarkan keunggulan nilai korporasi bagi pemimpin. Ia mengatakan “your leadership must be rooted in who you are and what matters most to you.”Bila seorang pemimpin benar-benar tahu siapa dirinya, dan apa yang ia perjuangkan, lebih mudah baginya menghadapi situasi apa pun. Pengambilan keputusan dalam situasi yang dilematis pun bisa dilakukan dengan lebih ringan dengan adanya nilai-nilai tersebut sebagai pegangan. Kreamer mengungkapkan empat prinsip dari values based leadership :

1.Self reflection

Seorang pemimpin perlu mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Ia perlu banyak intropeksi diri agar bisa memimpin dirinya sendiri, kemudian ia bisa memimpin orang lain. Banyak manajer atau pemimpin yang tidak dapat melihat dirinya sehingga tidak sanggup menerima masukan dan bersikap defensif.

2.Balance

Dapat melihat dari berbagai sudut. Ini adalah kunci keterbukaan pikiran. Bagaimana seorang pemimpin dapat memahami sudut pandang anak buahnya yang mungkin berbeda darinya. Bila mampu melakukannya, dapat bersikap lebih terbuka dan ketika mengambil keputusan lebih bijaksana.

3.True self confidence

Seorang pemimpin benar-benar menerima dirinnya apa adanya. Hal tersebut dapat memudahkan mengakui karyawannya yang lebih berbakat, lebi sukses, bahakan dapat memanfaatkannya dengan positif.

4.Genuine humility: Never forget who you are or where you came from

Sikap ini membuat kita selamanya selalu “menginjak bumi” lepas dari setinggi apapun kesuksesan yang sudah kita capai sekarang.

Keempat prinsip sederhana ini bisa diterapkan oleh siapa saja tanpa prasyarat. Tidak harus menunggu memiliki bawahan sampai ratusan. Menghadapi kondisi saat ini yang di warnai oleh 3C: Change, Controversy, dan Crisis, perlu berpegang pada hal yang kita anggap paling penting dan pedoman hidup agar tidak terbawa arus begitu saja. Pada saat inilah kita perlu mempersenjatai diri dengan prinsip pada praktik berkomunikasi dengan atasan, rekan sekantor dan para stakeholder sehingga dapat mengambil tindakan yang benar.

   For Further Information, Please Contact Us!