Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

MENEMPATKAN SI INDIVIDUALIS DI DALAM ORGANISASI

11 October 2018
Category: SECRETARY
Penulis:         Uripi Resti Aisyah
MENEMPATKAN SI INDIVIDUALIS DI DALAM ORGANISASI

“Berawal dari seorang staf yang baru yang mengisi kekosongan di divisi kesekretariatan. Meskipun masih baru bekerja, staf ini cukup menonjol karena daya tangkapnya yang cukup baik. Dalam pekerjaannya ia memiliki standar kerja yang tinggi sehingga terkadang rekan kerja merasa "minder" jika harus bekerjasama dengan staf baru tersebut. Meskipun telah mengetahui hal tersebut, si staf baru tidak memperdulikan rekan kerja lainnya dan cenderung lebih menyukai menyelesaikan tugasnya sendiri tanpa harus berkoordinasi dengan rekan satu tim.”

Cerita diatas merupakan suatu ilustrasi atas sikap seorang individualis. Individualis sendiri adalah sikap seseorang yang selalu mempertahankan kepribadian dan kebebasan diri sendiri. Dimana orang yang memiliki kepribadian ini cenderung percaya diri atas kemampuannya dan bila dirasa perlu terkadang ia akan menerebos atau menentang prosedur yang ada apabila dirasa hal tersebut menghalangi kebebasan dirinya. Dalam suatu organisasi kita dituntut untuk selalu bekerjasama dalam tim, apalagi bila kita berada di dalam divisi sekretariat dimana mayoritas customer adalah staf internal dari perusahaan itu sendiri tentu perilaku individualis ini cukup mengganggu. Disamping dapat menimbulkan konflik perilaku tersebut juga dapat membuat seseorang dikucilkan dalam tim sehingga hasil pekerjaanya tentu tidak akan diakui secara maksimal.

Bila dikelola dengan baik, karyawan individualis tidak sepenuhnya menyulitkan perusahaan tergantung bagaimana lingkungan kerja memperlakukan mereka. perlu diketahui tidak ada orang yang ingin terlahir sebagai individualis, mereka hanya merasa terlalu mempercayai kemampuannya dan tidak terlalu mementingkan lingkungan sekitar. Perlu adanya tindak lanjut dari perusahaan untuk memaksimalkan peran dari karyawan tersebut. Orang individualis tidak selalu pendiam dan tidak banyak bergaul, ada kalanya pergaulan sosial mereka baik namun cara pandang mereka saja yang berbeda dengan orang pada umumnya.

Sifat individualis sendiri biasanya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar atau dari keluarga. Misalnya saja seseorang yang dari kecil sudah dibiasakan oleh orang tua untuk berjiwa kompetitif, seperti halnya nilai raport harus lebih bagus dari kakaknya atau dari si A atau bisa jadi orang tua terlalu menuntut anak untuk selalu mendapatkan sesuatu yang lebih dari rekannya. Memotivasi anak memang baik, namun harus diimbangi dengan sikap tolong menolong dan kemampuan sosial lainnya sehingga tidak menjadikan seseorang terlalu individualis. Bila diterjunkan dalam lingkungan pekerjaan mereka akan cenderung memberikan hasil yang terbaik dengan cara apapun, meskipun terkadang merugikan orang lain. Berikut beberapa tips yang bisa digunakan oleh perusahaan dalam menghadapi karyawan yang individualis:

1.Tempatkanlah sesuai harapannya

Kita ambil contoh staf dibagian kesekretariatan tadi. Bila dirasa tidak dapat dikembangkan di divisi finance yang perlu banyak berkoordinasi dengan rekan satu tim, tempatkanlah mereka di bagian yang tidak memerlukan banyak koordinasi atau di pekerjaan yang lebih spesifik. Misalnya saja bila ia memiliki kemampuan di bidang keuangan bisa dimasukkan dalam analis keuangan dimana ia hanya berkutat dengan laporan keuangan perusahaan, berhubungan dengan angka dan membuat laporan yang khusus untuk pimpinan. Disamping banyak disibukkan dengan pekerjaan ia dituntut untuk selalu memberikan yang terbaik karena berhubungan langsung dengan Direksi.

    2.Manfaatkan Kelebihannya

    Seperti yang diketahui orang individualis cenderung menunjukkan kelebihannya terutama bila dikaitkan dengan pekerjaan tentu ia akan memaksimalkan pekerjaannya. Hal ini bisa dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memberikan nilai tambah bagi individu di dalam suatu organisasi. Misalkan saja sosialisasi tentang peraturan terbaru di bidangnya. Diambil contoh saja di bagian kesekretariatan tadi, berikan mereka tugas untuk mempelajari lebih dalam tentang peraturan kesekretariatan terbaru, misalnya saja peraturan keuangan, peraturan tentang pengarsipan atau sosialisasi mengenai hal lain yang berhubungan dengan pekerjaan. Kebanyakan staf akan lebih senang jika pengajar adalah dari rekan sendiri sehingga akan lebih nyaman untuk mengajukan pertanyaan bila ada kesulitan atau bertukar pikiran. Disamping perusahaan mendapatkan manfaat sesama staf pun akan lebih intens untuk berkomunikasi.

    3.Berikan Pelatihan

    Karena sifat individualis tidak dapat dihindari dan terkadang seseorang tidak sadar bila memiliki sifat tersebut, perusahaan harus tetap gencar untuk menjalankan pelatihan untuk memperkuat tim di dalam organisasi. Pelatihan yang cocok antara lain keterampilan sosial seperti komunikasi, negoisasi, pemecahan masalah atau pengelolaan konflik. Pelatihan sosial semacam itu akan lebih kepada kerjasama tim yang mengharuskan seseorang untuk bekerjasama dalam grup. Diharapkan pelatihan tersebut akan mengikis sedikit demi sedikit sifat individualis yang muncul di diri staf.

Penting bagi perusahaan untuk terus menciptakan jiwa sosial dilingkungan kerja. Banyak perusahaan yang memberikan penilaian kinerja secara individual sehingga memacu semangat kompetitif sesama staf. Hal ini baik dilakukan untuk meningkatkan profit perusahaan tetapi sebaiknya juga diimbangi dengan kegiatan yang melibatkan kerjasama tim. Misalnya saja dalam sebulan sekali selain dipilih employee of the year juga dipilih divisi dengan kinerja terbaik, perlombaan antar divisi di dalam acara ulang tahun kantor serta kegiatan lainnya yang mempererat kerjasama antar rekan kerja. Bila suatu individualis tinggal di lingkungan yang bersahabat lambat laun ia akan paham tentang pentingnya kebersamaan dan merubah paham yang dimiliki.

   For Further Information, Please Contact Us!