Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

7 Waste Dalam Lean Manufacturing

11 May 2018
Category: ACCOUNTING
Penulis:         Ernatalia Sari, S.E.
7 Waste Dalam Lean Manufacturing

Persaingan dalam dunia bisnis saat ini menuntut perusahaan manufactur agar terus meningkatkan hasil produksi baik dari segi kualitas, harga, jumlah produksi, dan kepuasan konsumen. Dalam hal ini, Lean Manufacturing berperan sebagai strategi atau upaya nyata perbaikan secara continue dalam proses operational perusahaan manufacturing, khususnya terkait dengan waste control lini produksi. Tingginya tingkat waste dalam lini produksi dapat menghambat aliran nilai sehingga menyebabkan tidak tercapainya efisiensi waktu produksi. Oleh sebab itu diperlukan adanya upaya meminimalisasi waste yakni mengurangi pemborosan baik dari sisi bahan baku, gerakan, lalu lintas bahan baku, proses menunggu, pengerjaan ulang maupun proses perbaikan.

Berikut ini adalah 7 waste yang umumnya muncul dalam industri manufacturing yang seharusnya diperhatikan secara khusus oleh manajemen operational perusahaan:

1. Waste of Overproduction (Produksi yang berlebihan)

Waste atau pemborosan yang terjadi karena kelebihan produksi baik yang berbentuk Finished Goods (Barang Jadi) maupun WIP (Barang Setengah Jadi) tetapi tidak ada order / pesan dari Customer. Beberapa Alasan akan adanya Overproduction (kelebihan Produksi) antara lain Waktu Setup Mesin yang lama, Kualitas yang rendah, tidak adanya production planning yang akurat.

Hal ini berbahaya bagi perusahaan yang menghasilkan consumable product yang mana memiliki expired date yang singkat. Contohnya industri makanan dimana hasil produksi harus sesegera mungkin sampai ke konsumen untuk menghindari tingginya waste barang jadi dikarenakan telah memasuki masa expired.

2. Waste of Inventory (Inventori)

Waste atau pemborosan yang terjadi karena Inventory merupakan salah satu akibat dari waste overproduction. Akumulasi dari Finished Goods (Barang Jadi), WIP (Barang Setengah Jadi) dan Bahan Mentah yang berlebihan di semua tahap produksi akan memerlukan tempat penyimpanan, Modal yang besar, serta tambahan tenaga/orang yang mengawasinya dan pekerjaan dokumentasi (Paperwork). Waste of inverntory dapat menjadi indikasi terjadinya overproduction, maupun menurunnya kinerja penjualan/ sales perusahaan.

3. Waste of Defects (Cacat / Kerusakan)

Waste atau Pemborosan yang terjadi karena buruknya kualitas atau adanya kerusakkan (defect) sehingga diperlukan perbaikan. Ini akan menyebabkan biaya tambahan yang berupa biaya tenaga kerja, komponen yang digunakan dalam perbaikan dan biaya-biaya lainnya. Hal ini penting untuk diperhatikan dalam lini produksi, karena akibatnya bukan hanya terbuangnya barang yang dinilai cacat atau rusak, tetapi juga mengakibatkan pemborosan waktu, sumberdaya, maupun tenaga yang telah dikeluarkan untuk menghasilkan produk cacat tersebut. Oleh karena itu perusahaan manufacturing umumnya menerapkan prinsip “zero defect” di setiap tahap produksi.

4. Waste of Transportation (Pemindahan/Transportasi)

Waste atau Pemborosan yang terjadi karena tata letak (layout) produksi yang buruk, peng-organisasian tempat kerja yang kurang baik sehingga memerlukan kegiatan pemindahan barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Contohnya Letak Gudang yang jauh dari Produksi. Kesalahan dalam penataan layout produksi dapat mengakibatkan tidak terpenuhinya unsur efektif dalam keberlangsungan produksi. Dimana akan menyebabkan tingginya waktu pengerjaan, dan terbuangnya tenaga yang tidak diperlukan (non value added movement) sehingga menghasilkan output yang tidak maksimal.

5. Waste of Motion (Gerakan)

Waste atau Pemborosan yang terjadi karena Gerakan –gerakan Pekerja maupun Mesin yang tidak perlu dan tidak memberikan nilai tambah terhadap produk tersebut. Contohnya peletakan komponen yang jauh dari jangkauan operator, sehingga memerlukan gerakan melangkah dari posisi kerjanya untuk mengambil komponen tersebut.

6. Waste of Waiting (Menunggu)

Saat Seseorang atau Mesin tidak melakukan pekerjaan, status tersebut disebut menunggu. Menunggu bisa dikarenakan proses yang tidak seimbang sehingga ada pekerja maupun mesin yang harus mengunggu untuk melakukan pekerjaannya, Adanya kerusakkan Mesin, supply komponen yang terlambat, hilangnya alat kerja ataupun menunggu keputusan atau informasi tertentu. Hal ini dapat diminimalisir dengan mengukur waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap produk. Pengukuran ini harus dilakukan untuk masing-masing kegiatan dalam lini produksi, agar dapat mendeteksi proses-proses mana yang berpotensi timbulnya proses menunggu. Contohnya : dalam industry makanan misalnya, ada proses pemasakan dengan pemanggangan maupun pengukusan, yang mana selama proses menunggu tersebut pegawai dapat melakukan kegiatan lain yang lebih memiliki nilai tambah.

7. Waste of Overprocessing (Proses yang berlebihan)

Tidak setiap proses bisa memberikan nilai tambah bagi produk yang diproduksi maupun customer. Proses yang tidak memberikan nilai tambah ini merupakan pemborosan atau proses yang berlebihan. Contohnya : proses inspeksi yang berulang kali, proses persetujuan yang harus melewati banyak orang, proses pembersihan. Semua Customer menginginkan produk yang berkualitas, tetapi yang terpenting adalah bukan proses Inspeksi berulang kali yang diperlukan tetapi bagaimana menjamin Kualitas Produk pada saat pembuatannya. Yang harus kita lakukan adalah Carikan Root Cause (akar penyebab) dari suatu permasalahan dan ambilkan tindakan (countermeasure) yang sesuai dengan akar penyebab tersebut.

Tujuh Pemborosan atau seven Waste ini disingkat dalam bahasa Inggris menjadi “TIMWOOD” menjadi :

  • T ransportation : Transportasi
  • I nventory : Inventori
  • M otion : Gerakan
  • W aiting : Menunggu
  • O verprocessing : Proses yang berlebihan
  • O verproduction : Produksi yang berlebiha
  • D effect : Kerusakan

   For Further Information, Please Contact Us!