Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology.

.

23 February 2022
Category: INTERNAL AUDIT
Penulis:         Drs Ec. Josef Tanzil, Ak., CA., CPA., FBIM., FAIM., CQAR., CRMA., CFC.
.

Pada mulanya konsep Agile dipakai dibidang IT (software development) akan tetapi hari ini konsep tersebut dapat dipakai disemua fungsi organisasi, termasuk untuk fungsi internal Audit. Agile merupakan istilah yang dipakai untuk metode kerja yang berdasarkan prinsip-prinsip dari Agile Manifesto.

Internal Audit dahulu dikerjakan mengikuti metode Air Terjun (Waterfall – Winston Royce), dimana internal audit dikerjakan mengikuti 6 fase yakni perencanaan, survey pendahuluan, audit lapangan, pelaporan, evaluasi, dan tindak lanjut, dimana fase berikutnya baru bisa dilaksanakan bilamana fase sebelumnya telah selesai. Metode ini seringkali dikritik terlalu kaku dan terlalu lama memberikan hasil serta saran-saran perbaikan yang harus dilaksanakan.

Dengan perubahan-perubahan serta perkembangan yang sangat cepat dewasa ini (Otomatisasi, global connectivity, and lingkungan risiko yang dinamis) menciptakan risiko-risiko operasional, moneter dan reputasisemakin meningkat dan semakin rumit dengan diterbitkan peraturan-peraturan baru terkait dengan bidang IT, Keuangan, Perbankan, Perpajakan, ESG., sehingga metode Air Terjun belum tentu menjadi metode yang sesuai dan terbaik, sehingga metode Agile Auditing akan lebih memadai, karena lebih fleksibel dan dinamis.

Hal ini diperkenankan sesuai Standar 2240 IPPF, akan tetapi membutuhkan perubahan cara berpikir bagi manajemen perusahaan untuk mau menerapkan metode ini. Walaupun demikian lingkungan usaha serta budaya organisasi perlu diperhatikan sebelum menerapkan metode Agile Auditing.

Falsafah Agile didasarkan pada empat prinsip:

    1.Individu dan interaksi atas proses dan tehnik audit (Individuals and Interactions over processes and tools)

    2.Pemakaian software lebih penting daripada dokumentasi yang lengkap (Working software is more important than comprehensive documentation)

    3.Kolaborasi dengan auditee tentang kontrak audit (Customer collaboration over contract negotiation)

    4.Tanggap atas perubahan rencana berikutnya (Responding to change over following a plan)

Adapun tujuan untuk menerapkan prinsip-prinsip Agile difungsi Internal Audit, adalah untuk meningkatkan mutu daripada audit, memperpendek siklus audit sehingga mempercepat waktu penyelesaian, serta lebih banyak interaksi antara internal auditors dan auditee sehingga meningkatkan harapan manajemen. Dengan demikian integrasi daripada metode Agile meningkatkan nilai tambah daripada fungsi internal audit serta memperbaiki internal control daripada perusahaan.

Dalam implementasi Agile Internal Audit cara berpikir dan metode kerja yang dipakai oleh fungsi Internal Audit adalah memusatkan pada kebutuhan stakeholders, mempercepat siklus audit, dan mengurangi pemborosan dari tenaga yang dibutuhkan, serta tetap patuh pada Standar Internal Audit (IPPF).

Contoh penerapan Agile auditing bagi team Internal Audit:

#1. Focus on High-Impact Risk (Risk prioritization), dimana untuk setiap proses dipusatkan pada risiko-risiko yang terpenting, daripada memperhatikan semua risiko yang ada.

#2. Stakeholder engagement, dimana stakeholders dilibatkan dalam proses audit dengan memberi masukan informasi kepada team internal audit sepanjang proses audit.

#3. Cepat menanggapi perubahan (Streamlined workflows).

Adapun manfaat yang diperoleh dengan menerapkan Agile Internal Audit adalah:

·Risk agility: Which allows for flexibility in responding to dynamic risk.

·Efficiency: Reduce audit cycle times and delivery of (sub) products.

·Focus on continuous prioritization of key areas and thereby providing relevant insight.

·More interaction between the audit team and the auditee, which improves the management of expectations.

·Increased audit quality.

Deloitte memberikan hasil survey mereka tentang manfaat dari penerapan Agile Internal Audit adalah:

The percentage of functions reporting benefits through Agile Internal Audit (by benefit category) were:

Sebagai penutup dapat dikemukakan bahwa “Agile auditing, when translated into practical terms, is a simple and straightforward approach to deliver efficient and effective internal audit products“. Agile Internal Audit dapat dan sesuai untuk diterapkan sekarang dan kedepan.

   For Further Information, Please Contact Us!