Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology.

.

18 December 2021
Category: INTERNAL AUDIT
Penulis:         Suryo Kuncoro Yudho, S.E
.

Pandemi Covid – 19 hampir membuat audit internal tidak dapat secara optimal menjalankan audit plan yang telah disusun matang. Pembatasan perjalanan dan pemberlakuan bekerja di rumah atau yang dikenal dengan istilah Work From Home (WFH) sebagai upaya pengurangan penyebaran Covid 19, serta perubahan profil risiko perusahaan yang sebelumnya telah dikaji dan disetujui oleh manajemen, adalah dua hal yang menjadi kendala bagi audit internal dalam menjalankan audit plan.

Profil risiko perusahaan yang telah disusun matang meliputi: risiko pendapatan, risiko resource perusahaan, risiko operasi supply chain perusahaan, dan risiko cybersecurity perusahaan. Dan, munculah profil risiko baru yang diiringi dengan meningkatnya severity (tingkatan keparahan). Oleh karena itu, manajemen perusahaan merespons dengan cara mengidentifikasi core business perusahaan, dan melakukan remediasi pada bagian perusahaan yang proses bisnisnya paling terdampak Covid – 19. Tentu saja hal ini berimbas kepada audit internal untuk membuat audit plan baru. Memaksakan pelaksanaan audit plan tidak boleh dilakukan oleh audit internal karena sudah tidak relevan dengan audit plan yang baru. Dalam menyikapi situasi pandemi ini Chief Audit Executive terbagi menjadi beberapa sisi. Ada yang menghentikan atau mengurangi ruang lingkup penugasan tetapi ada juga meneruskan audit yang bersifat mandatory sesuai tugas yang diberikan oleh regulator, disisi lain adapula yang menambah penugasan baru untuk melakukan pemeriksaan atas risiko baru yang muncul akibat dari Covid -19. Hal ini menunjukkan sifat agility dari auditor internal terhadap perubahan risiko pada perusahaan.

Mengambil keputusan yang berani dengan menghentikan rencana audit atau audit plan yang dinilai sudah tidak relevan, dan mengganti dengan penugasan baru atau memperluas jangkauan ruang lingkup penugasan yang relevan dengan risiko baru yang telah dikaji. Agilitas audit internal juga terlihat dari kerelaan untuk melepas predikat “auditor” dan mengarahkan seluruh staff audit internalnya untuk melakukan penugasan non audit yang dikuatkan dengan kode etik, agar tidak terjebak pada conflict of interest. Penugasan berupa advisory dapat diberikan kepada audit internal untuk memeriksa bagian proses manajemen yang kritis akibat dari pandemic Covid – 19.

Audit Internal selain merubahjadwal rencana audit atau yang sering disebut audit plan, juga harus merubah pendekatan kepada auditee melalui remote auditing.Hal ini sebenarnya bukan hal yang sama sekali baru bagi audit internal. Mengapa demikian? Karenasejak dimulainya era disrupsi dimana perkembangan teknologi semakin maju dan telah terjadi revolusi industry 4.0, sehingga data atau dokumen dapat diakses langsung dari kantor pusat.

Tahapan remote auditing memiliki kesamaan dengan tahapan audit tradisional.Kesamaan tersebut yakni tahapan pada entry meeting, tahapan pada review dokumen, tahapan pada kunjungan lapangan, tahapan pada interview, dan yang terakhir adalah tahapan pada closing meeting.

Tahapan entry meeting pada tahapan remote auditing dapat dilakukan dengan meeting jarak jauh. Pada tahapan review dokumen, dokumen yang akan digunakan sebagai bahan pemeriksaan dapat sangat bervariasi.Pada tahap ini, audit internal harus memperoleh izin untuk dapat mengakses data dari sistem dokumentasi klien. Pertanyaan yang ditanyakan dikumpulkan sewaktu melakukan review dan ditanyakan kepada auditee pada saat proses interview. Kunjungan adalah tahapan selanjutnya yang bertujuan untuk mendapatkan bukti observasi. Selama pemeriksaan dilakukan melalui jarak jauh atau remote auditing. Auditor dapat meminta kepada auditee untuk melakukan tour on site melalui live streaming yang dinilai cukup efektif dalam pelaksanaan tahap observasi. Namun, kita juga harus mampu mengantisipasi kendala-kendala yang muncul, seperti kendala jaringan yang tidak stabil, yang dapat menghambat proses audit.

Selain jaringan wifi yang tidak stabil, juga terdapat kelemahan yang lain. Kelemahan tersebut berupa pandangan yang terbatas atau pandangan kaca mata kuda disaat dilakukan live streaming. Auditor hanya fokus yang ditayangkan, kemungkinan terdapat hal yang disembunyikan selama masa pemeriksaan observasi. Terdapat alternatif atas kendala dari live-streaming, auditor dapat meminta kepada auditee untuk merekam video jika pada saat live streaming telah dilakukan menemukan kekurangan bagian yang dieksplore. Auditor mengarahkan audite area mana yang harus direkam sehingga area yang berpotensi rawan untuk disembunyikan dapat diminimalisir.

CCTV yang terpasang pada di area yang dijadikan sebagai tempat observasi dapat digunakan untuk membantu pemeriksaan, seluruh back up penyimpanan atas yang direkam oleh CCTV, auditor dapat mengendalikan dari kantor pusat.Hal ini mempermudah untuk tahap selanjutnya yaitu melakukan review, membuat analisis pemeriksaan dan membantu pengujian. Tahap interview secara remote dilakukan dengan menggunakan pertanyaan dan catatan yang dikumpulkan selama review dokumen dan kunjungan ke lapangan. Pada saat melaksanakan interview, auditor sebaiknya pada saat video conference dengan auditee tidak hanya mendengarkan suara, tetapi juga harus open camera supaya dapat menganalisa mimik tekstur wajah atau gerakan non-verbal dari auditee. Interviewee harus menyesuaikan perannya pada saat interview supaya dapat menentukan durasi pada saat video conference.

Closing meeting adalah tahap terakhir. Tahap ini dilaksanakan dalam waktu 2 sampai 3 hari setelah interview selesai dilaksanakan, dan auditee telah menyetujui agendanya.Jeda waktu antara interview yang selesai dilaksankan sampai dengan pelaksanaan closing meeting digunakan untuk menyelesaikan draft laporan audit.Sama halnya dengan audit konvensional, pada tahapini, auditor dapat melakukan klarifikasi atas fakta yang ditemukan dari hasil observasi dan hasil yang didapatkan dari interview dengan auditee. Klarifikasi ini dapat memberikan pandangan untuk perbaikan atau rekomendasi perbaikan atas temuan yang ditemukan.

Jika audit internal dapat mengatasi masa krisis ini, maka dapat menjadisebuah kesempatan, karena masa krisis ini dapat dijadikan sebagai market moment. Mengapa Demikian? market moment terjadi disaat “harga barang dijual dengan titik terendah atau sangat dijual murah”. Apa hubungannya audit internal dengan masa krisis ini yang disebut dengan market moment? karena pada masa seperti ini, auditor akan mendapatkan posisi yang baik, atas respons positif dari hasil pemeriksaan berdasarkan risiko baru yang sudah dikaji, serta membantu departemen lain mengatasi risiko yang muncul.

Audit internal harus menghentikan segala kegiatan audit yang akan dilaksanakan dan rencana audit, yang sudah tidak sejalan dengan prioritas dari manajemen.Kegiatan audit dan rencana audit yang telah disusun diharapkan hasilnya dapat menjadi respons yang baik atas risiko yang telah dikaji dan dapat menjadi recovery atas kerugian yang muncul. Jika diperlukan, auditor internal melepas seluruh predikat “auditor” dan terjun membantu kegiatan manajemen, serta dapat membantu memfasilitasi manajemen untuk dapat mengantisipasi “emerging risk”. Selain agilitas, remote auditing juga merupakan respons yang tepat terhadap situasi pandemi ini.Setelah menikmati pengalaman dan merasakan manfaat work from home (remote working), kemungkinan besar sebagian orang akan tetap memilih menggunakannya, dan enggan kembali ke cara lama yang manual. Dengan agilitas dan remote auditing, auditor internal lebih percaya diri memasuki era new normal.

   For Further Information, Please Contact Us!