Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

EMPLOYEE SATISFACTION: THE SUCCESS FACTOR IN WORKPLACE

12 October 2017
Category: HUMAN RESOURCE
Penulis:         Yully Retno Utami, S. Psi
EMPLOYEE SATISFACTION: THE SUCCESS FACTOR IN WORKPLACE

Kepuasan dalam bekerja penting bagi setiap karyawan di Perusahaan terutama sebagai bagian dari pemenuhan aktualisasi diri. Kepuasan kerja yang tidak terpenuhi dapat mengakibatkan tidak tercapainya kematangan psikologis bahkan dapat menyebabkan seseorang frustasi dalam bekerja. Tidak hanya itu hal ini juga berdampak kepada kinerjanya di lapangan seperti motivasi kerja menurun, produktivitas yang rendah, lingkungan sosial menjadi tidak sehat dan bahkan sampai mengakibatkan terjadinya turnover(Porter & Steers dalam Munandar, 2007).

Penelitianyang dilakukan oleh Locke (dalam Luthans, 2008) meninjau tentang hal ini dimana kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak kondisi yang mempengaruhi munculnya kepuasan ataupun ketidakpuasan karyawan dalam bekerja diantaranya kompensasi yang diberikan perusahaan, desain pekerjaan, kondisi pekerjaan, hubungan sosial antar pekerja, penghargaan, dan lain-lain. Hal ini tidak dipungkiri mengapa sebagian besar penyebab muncul dikarenakan sistem atau kebijakan yang berlaku di Perusahaan karena sebagian waktu karyawan dihabiskan banyak di tempat kerja. Sehingga sangat jarang sekali bila kepuasan ataupun ketidakpuasan dalam bekerja itu muncul dari eksternal diluar lingkup pekerjaan.

Ketidakpuasan karyawan dalam pekerjaannya di perusahaan, ditunjukkan dengan 4 respon:

    a.Active-Constructive

    Merupakan respon dimana karyawan tetap bertahan pada perusahaan dengan memberikan saran dan kritik serta usaha lain untuk memperbaiki keadaan. Tentu perusahaan menyadari bahwa kepuasan karyawan berbeda-beda, sehingga perusahaan tidak dapat memastikan apakah semua karyawannya puas dengan lingkungan kerjanya. Maka dari itu, respon Active-Constructive diharapkan oleh perusahaan, agar dapat dijadikan bahan evaluasi untuk kemajuan bersama.

    b.Passive-Constructive

    Pada respon ini karyawan masih menunjukkan loyalitasnya terhadap perusahaan, namun lebih pasif dalam setiap kegiatan karena berharap kondisi akan kembali normal atau bahkan lebih baik. Respon ini rawan terhadap produktivitas karyawan. Jika harapan karyawan tentang kondisi yang akan lebih baik tidak terjadi, maka pada akhirnya karyawan akan memberikan respon Passive-Destructive bahkan Constructive-Destructive.

    c.Passive-Destructive

    Pada tipe ini, karyawan menunjukkan respon ketidak-peduliannya pada situasi yang ada. Respon ini juga berbahaya terhadap kelangsungan perusahaan karena karyawan hanya akan bekerja sekedarnya tanpa memberikan keunggulan lebih dan inovasi terhadap keberlangsungan bisnis perusahaan.

    d.Constructive-Destructive

    Respon ini sangat tidak di inginkan oleh perusahaan karena karyawan mengekspresikan ketidakpuasannya dengan cara mengundurkan diri dari perusahaan. Dimana ini merupakan batas toleransi yang diberikan kepada karyawan atas responnya kepada kebijakan Perusahaan.

Seluruh respon yang menjadi pilihan untuk ditunjukkan oleh karyawan seharusnya dapat disadari oleh atasan sebagai leader yang bertanggung jawab terhadap perkembangan karyawan tersebut. Paling tidak, ketika karyawan sudah menunjukkan respon Active-Constructive, atasan segera mencarikan solusi dari apa yang disampaikan karyawan. Sehingga diharapkan tidak muncul respon lain yang lebih berbahaya terhadap keberlangsungan perusahaan.

Disisi lain, kepuasan karyawan ditentukan oleh banyak faktor. Kenaikan gaji tentu merupakan hal yang sangat di inginkan oleh karyawan, namun bagi sebagian karyawan, bekerja tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan finansial. Lebih jauh dari itu karyawan akan puas dalam bekerja ketika faktor-faktor lain yang lebih penting dari uang terpenuhi sesuai harapan. Faktor-faktor tersebut antara lain:

    a.Kecocokan karyawan dengan pekerjaan

    Ketidakcocokan karyawan dengan pekerjaan akan membuat produktivitas karyawan cenderung rendah sehingga kinerjanyapun dinilai rendah. Selain itu juga beresiko timbulnya masalah perilaku karyawan dalam lingkungan kerja, sampai pada pemberhentian baik suka rela maupun tidak. Kecocokan karyawan terhadap pekerjaannya dipengaruhi oleh kemampuan, pendidikan, ketertarikan, dan juga kepribadian karyawan itu sendiri. Karyawan yang mampu bertahan dalam perusahaan salah satunya melihat hal ini sebagai alasannya.

    b.Penghargaan terhadap kontribusi yang diberikan

    Baik secara langsung maupun tidak, karyawan yang mampu bertahan lama di dalam perusahaan mendapatkan perlakuan yang baik dari atasan. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan baik, karyawan mengharapkan adanya penghargaan atas kemampuan bekerja mereka termasuk kemampuan interpersonal yang mereka miliki, serta penghargaan atas keinginan mereka untuk bekerja lebih dari ekspektasi

    c.Kesempatan berkembang

    Adanya kesempatan berkembang di dalam perusahaan juga akan meningkatkan motivasi karyawan untuk terus berada di perusahaan. Kesempatan ini bisa didapatkan dari pelatihan, seminar, dan lain-lain. Sehingga karyawan tidak hanya merasa dibutuhkan kompetensinya saja, namun juga kebutuhannya untuk berkembang juga difasilitasi.

    d.Kebebasan dalam memilih cara kerja

    Meskipun setiap perusahaan memiliki aturan dalam proses kerja yang ia miliki, namun ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan untuk diserahkan kepada karyawan misalnya ialah cara kerja. Kebebasan dalam memilih cara kerja pada pemegang jabatan terbukti dapat meningkatkan kepuasan dan memicu munculnya inovasi dari karyawan. Sehingga tidak hanya karyawan yang mendapatkan manfaatnya karena dapat bekerja dengan caranya sendiri, namun juga secara tidak langsung perusahaan akan merasakan dampak positifnya.

    e.Peran atasan sebagai panutan

    Karyawan tentu membutuhkan atasan sebagai sumber informasi mengenai pekerjaan yang tidak ia pahami, tempat menyampaikan pendapat dengan terbuka, dan lain-lain sehingga atasan diharapkan dapat memahami dan memanfaatkan posisinya dengan baik. Tidak jarang karyawan memutuskan untuk mengundurkan diri akibat ketidakcocokan dengan atasan.

    f.Hubungan dengan rekan kerja

    Rekan kerja baik darisatu bagian maupun bagian lain merupakan support system yang dibutuhkan oleh karyawan. Sehingga ketika hubungan dengan rekan kerja tidak sesuai harapan, maka tidak jarang produktivitas karyawan juga menurun. Hubungan yang baik dengan rekan kerja, saling support dan bekerjasama akan menimbulkan rasa percaya diri dan semangat pada karyawan dalam menjalankan pekerjaannya. Hal ini tidak hanya bermanfaat untuk proses mental karyawan dalam bekerja, namun juga bermanfaat terhadap kinerja perusahaan. Selain itu hubungan yang baik dengan rekan kerja juga merupakan kepuasan tersendiri bagi karyawan karena menambah koneksi juga merupakan harapan dari karyawan.

    g.Perasaan dipercaya dalam melakukan pekerjaan

    Terlalu di awasi dan di kontrol pada setiap pekerjaan membuat karyawan merasa tidak dipercaya dan dicurigai. Hal ini akan mempengaruhi kenyamanan karyawan dalam bekerja secara optimal. Karyawan yang tidak nyaman dalam bekerja cenderung tidak akan menunjukkan potensi terbaiknya. Atasan hanya harus menunjukkan pekerjaan karyawannya kemudian memberikan kesempatan pada karyawan untuk mengerjakan pekerjaannya dengan cara yang ia miliki sendiri. Hal ini lebih memungkinkan karyawan mengeluarkan potensi terbaiknya sehingga proses yang ia jalankan dapat lebih efektif dan efisien.

    h.Feedback yang positif

    Karyawan membutuhkan feedback untuk setiap pekerjaan yang ia selesaikan sehingga ia tau kekurangan maupun kelebihan dari cara kerja yang ia lakukan. Tidak adanya feedback akan membuat karyawan merasa tidak dihargai dan tidak mengetahui apa yang perlu dirubah dari cara kerjanya. Tidak adanya feedback juga membuat karywan bosan karena tidak ada yang perlu ia tingkatkan sehingga memicu keengganan karyawan untuk mencari tantangan yang baru.

    i.Arahan spesifik untuk melakukan pekerjaan

    Meskipun karyawan ingin bebas dalam melakukan pekerjaannya, tidak terlalu di atur dan di awasi, namun karyawan tetap membutuhkan arahan yang spesifik dari atasannya. Hal ini dimaksudkan agar karyawan memahami target yang ingin dicapai perusahaan melalui pekerjaannya. Pekerjaan yang dilakukan karyawan tanpa arahan akan membuat karyawan tidak memahami arah tujuan perusahaan sehingga karyawan tidak dapat menunjukkan kontribusi yang optimal pada perusahaan.

    j.Rasa aman dalam melakukan pekerjaan

    Karyawan juga membutuhkan rasa aman dalam bekerja, aman dari bullying, pelecehan seksual, pelecehan baik verbal maupun non verbal, dan lain-lain. Tentu ketika merasa tidak aman, karyawan akan cepat memutuskan untuk mengundurkan diri.

Dengan mempelajari hal-hal diatas diharapkan Perusahaan mampu melakukan antisipasi terhadap kondisi karyawan di Perusahaannya. Hal yang paling nyata adalah melalui peran para leader yang menjadi panutan team dibawahnya. Dari leader ini pula perusahaan dapat mengetahui kondisi setiap karyawan karena dianggap yang paling memahami kondisi team dibawahnya.

Begitu sinyalemen negatif itu muncul dimana rawan terjadinya gejolak maka peran leader diharapkan mampu membawa pengikutnya untuk mengembalikan emosi negatif yang muncul dan menempatkan diri secara tepat di Perusahaan. Kondisi ini dapat diantisipasi serta dipelajari dengan membaca kembali gejala beberapa respon diatas dan tentu saja dengan tetap memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawannya apakah sudah terakomodir dengan baik ataukah belum. Tentu saja diperlukan komitmen keseluruhan dimulai dari manajemen puncak hingga lini karyawan paling bawah.

   For Further Information, Please Contact Us!