Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

DILEMA ETIKA AUDITOR

22 June 2017
Category: AUDIT
Penulis:         Ayuning Harum Purbowati, S.E.
DILEMA ETIKA AUDITOR

Independensi dan etika dalam profesi akuntan memiliki pemahaman yang sangat penting dan mendalam. Sorotan publik pada profesi akuntan sangat besar sebagai dampak beberapa skandal perusahaan besar dunia seperti Enron dan WorldCom yang melibatkan para akuntan.

Akuntan seringkali dihadapkan pada situasi adanya dilema yang menyebabkan dan memungkinkan akuntan tidak dapat independen. Akuntan diminta untuk tetap independen dari klien, tetapi pada saat yang sama kebutuhan mereka tergantung kepada klien karena fee yang diterimanya, sehingga seringkali akuntan berada dalam situasi dilematis. Hal ini akan berlanjut jika hasil temuan auditor tidak sesuai dengan harapan klien, sehingga menimbulkan konflik audit. Konflik audit ini akan berkembang menjadi sebuah dilemma etika ketika auditor diharuskan membuat keputusan yang bertentangan dengan independensi dan integritasnya.

Auditing adalah sebuah fungsi penilaian independen. Kualitas auditing yang dijalankan akan berhubungan dengan manajemen. Sebagai tenaga kerja profesional, auditor mendapatkan penghasilan dari organisasi di mana dia bekerja, hal ini berarti auditor sangat bergantung kepada organisasi sebagai pengguna jasa atau customer. Di lain pihak, auditor dituntut untuk tetap independen sebagai bentuk tanggungjawabnya kepada publik dan profesinya. Di sini konflik audit muncul ketika auditor internal menjalankan aktivitas auditing. Ketika manajemen atau subyek audit menawarkan sebuah imbalan atau tekanan kepada auditor untuk menghasilkan laporan audit yang diinginkan oleh manajemen maka menjadi dilema etika. Untuk itu auditor dihadapkan kepada pilihan-pilihan keputusan yang terkait dengan hal-hal keputusan etis dan tidak etis.

Keputusan etis (ethical decision) secara definisi adalah sebuah keputusan yang baik secara legal maupun moral dapat diterima oleh masyarakat luas. Kemampuan dalam mengidentifikasi dan melakukan perilaku etis atau tidak etis adalah hal yang mendasar dalam profesi akuntan. Auditor juga tidak terlepas dari masalah bagaimana membuat keputusan etis. Auditor sebagai pemberi jasa mempunyai tanggung jawab kepada organisasi sebagai customernya, tetapi sebagai seorang akuntan profesional dia harus bertanggunjawab kepada profesinya, kepada masyarakat dan dirinya sendiri untuk berkelakuan etis yang baik. Kemampuan auditor untuk membuat keputusan yang akan diambil ketika menghadapi situasi dilema etika akan sangat bergantung kepada berbagai hal, karena keputusan yang diambil oleh auditor juga akan banyak berpengaruh kepada organisasi. Auditor secara terus menerus dihadapkan pada situasi dilema etika yang melibatkan pilihan-pilihan antara nilai-nilai yang saling bertentangan. Manajemen dapat mempengaruhi proses pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor. Manajemen dapat menekan auditor untuk melanggar standar pemeriksaan, tetapi auditor juga terikat kepada etika profesi dan mempunyai tanggungjawab sosial, maka auditor berada dalam situasi yang dilematis. Memenuhi tuntutan manajemen berarti melanggar standar dan etika profesi, namun di lain pihak, jika tidak memenuhi tuntutan tersebut kemungkinan dapat menghasilkan sanksi atas diri auditor.

Auditor secara sosial juga bertanggung jawab kepada masyarakat dan profesinya daripada mengutamakan kepentingan dan pertimbangan pragmatis pribadi atau kepentingan ekonomis semata. Situasi seperti hal tersebut di atas sangat sering dihadapi oleh auditor. Auditor seringkali dihadapkan kepada situasi dilema etika dalam pengambilan keputusannya.

Banyak pihak yang berkepentingan di dalam sebuah organisasi bisnis. Investor yang menanamkan dananya ke dalam perusahaan atau kreditur yang meminjamkan dananya, sehingga pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan tidak terbatas kepada manajemen saja, tetapi meluas kepada investor dan kreditor serta calon investor dan calon kreditur. Para pihak tersebut memerlukan informasi mengenai perusahaan, sehingga seringkali ada dua pihak yang berlawanan dalam situasi ini. Di satu pihak, manajemen perusahaan ingin menyampaikan informasi mengenai pertanggunjawaban pengelolaan dana yang berasal dari pihak luar, di lain pihak, pihal eksternal ingin memperoleh informasi yang andal dari manajemen perusahaan. Profesi akuntan timbul untuk memberikan informasi yang terpercaya bagi kedua belah pihak dalam situasi seperti ini.

Kode etik yang digunakan oleh para profesional beranjak dari bentuk pertanggunjawaban profesi kepada masyarakat. Akuntan sebagai sebuah profesi juga tidak terlepas dari pertanggungjawaban kepada masyarakat. Sebenarnya akuntan di dalam aktivitas auditnya banyak hal yang harus dipertimbangkan, karena dalam diri auditor mewakili banyak kepentingan yang melekat dalam proses audit (built-in conflict of interest).Seringkali dalam pelaksanaan aktivitas auditing, seorang auditor berada dalam konflik audit. Konflik dalam sebuah audit akan berkembang pada saat auditor mengungkapkan informasi tetapi informasi tersebut oleh klien tidak ingin dipublikasikan kepada umum.

Konflik ini akan menjadi sebuah dilema etika ketika auditor diharuskan membuat keputusan yang menyangkut independensi dan integritasnya dengan imbalan ekonomis yang mungkin terjadi di sisi lainnya. Karena auditor seharusnya secara sosial juga bertanggung jawab kepada masyarakat dan profesinya daripada mengutamakan kepentingan dan pertimbangan pragmatis pribadi atau kepentingan ekonomis semata, sehingga seringkali auditor dihadapkan kepada masalah dilema etika dalam pengambilan keputusannya.

Dilema etika muncul sebagai konsekuensi konflik audit karena auditor berada dalam situasi pengambilan keputusan yang terkait dengan keputusannya yang etis atau tidak etis. Situasi tersebut terbentuk karena dalam konflik audit ada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap keputusan auditor sehingga auditor daihadapkan kepada pilihan keputusan etis dan tidak etis.

   For Further Information, Please Contact Us!