Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

Three Most Common Misconceptions About Accounting Concepts And Principles

22 February 2017
Category: ACCOUNTING
Penulis:         Girindra Wardana, A.Md.
Three Most Common Misconceptions About Accounting Concepts And Principles

Kesalahan dalam akuntansi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Kesalahan dapat berupa kesalahan atas pemahaman suatu konsep akuntansi dan kesalahan atas perlakuan transaksi. Kedua kesalahan tersebut dapat menyesatkan pengguna informasi laporan keuangan perusahaan yang dapat merugikan perusahaan baik secara finansial maupun non-finansial. Perusahaan dapat berusaha meminimalkan kesalahan dengan berbagai cara, antara lain menetapkan prosedur dan instruksi kerja secara tepat, ringkas, dan jelas, mengotomasi proses administrasi menggunakan program, dan menerapkan pengendalian internal secara komprehensif. Namun, langkah-langkah tersebut tidak dapat mencegah kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh kesalahpahaman atas suatu konsep atau prinsip akuntansi (misconception). Kesalahpahaman atas suatu konsep atau prinsip akuntansi dapat menyebabkan kesalahan yang bersifat pervasif. Satu-satunya cara untuk menghindari kesalahan tersebut adalah dengan meluruskan kesalahpahaman sebelum kesalahan tersebut terjadi.

Tiga kesalahpahaman paling umum atas suatu konsep atau prinsip akuntansi adalah kesalahpahaman dalam penentuan perilaku biaya, ketiadaan beban pokok penjualan atas transaksi penyerahan jasa, dan perlakuan atas aset tetap yang telah disusutkan penuh tetapi masih dapat digunakan. Kesalahpahaman dalam penentuan perilaku biaya biasanya terjadi saat menentukan apakah suatu biaya tergolong biaya tetap atau variabel. Suatu biaya tergolong biaya tetap apabila biaya tersebut cenderung tetap walaupun jumlah unit yang dijual atau diproduksi berubah. Sedangkan biaya variabel merupakan biaya yang cenderung berubah secara proporsional mengikuti jumlah unit yang dijual atau diproduksi. Beberapa pihak sering menganggap biaya variabel sebagai biaya yang berubah secara proporsional mengikuti tingkat pemicu biaya (cost driver), apabila pemicu biaya meningkat, maka biaya variabel juga meningkat. Namun, apabila mengacu pada pemicu biaya, maka seluruh biaya akan tergolong menjadi biaya variabel, tidak ada biaya yang tergolong biaya tetap. Contohnya adalah biaya penyusutan. Biaya penyusutan dengan metode garis lurus merupakan biaya tetap karena biaya tersebut cenderung tetap terlepas dari jumlah unit yang diproduksi. Namun, apabila mengacu pada pemicu biaya, maka biaya tersebut tergolong biaya variabel dengan pemicunya berupa waktu (the passage of time). Selain itu, kedua konsep tersebut memiliki tujuan yang berbeda. Konsep penentuan perilaku biaya bertujuan untuk digunakan dalam analisis pengambilan keputusan atas jumlah unit yang harus dijual untuk mencapai tingkat laba tertentu. Sedangkan terminologi pemicu biaya (cost driver) digunakan dalam konsep activity-based costing, yakni konsep yang bertujuan untuk menentukan alokasi biaya overhead pabrik ke produk secara lebih akurat.

Kesalahpahaman kedua adalah anggapan bahwa perusahaan yang transaksi utamanya adalah penyerahan jasa tidak memiliki beban pokok penjualan (berbeda dengan perusahaan dagang atau manufaktur yang memiliki harga pokok penjualan). Perusahaan yang hampir seluruh transaksi utamanya adalah penyerahan jasa –seperti kantor akuntan publik, firma hukum, atau kantor jasa penilai publik, memang tidak memiliki harga pokok penjualan, karena perusahaan tersebut memang tidak menyerahkan barang atau persediaan. Namun, perusahaan tersebut tetap mengeluarkan berbagai biaya yang diperlukan untuk menyerahkan jasa kepada pelanggannya, yang dapat disebut sebagai beban pokok penjualan (cost of revenue/cost of sales). Beban pokok penjualan tersebut antara lain dapat berupa pengeluaran atas komisi penjualan, upah untuk pekerja paruh waktu atau pekerja lepas yang melakukan jasa tersebut, maupun pembayaran kepada tenaga ahli atas konsultasi pengembangan suatu proyek. Suatu pengeluaran merupakan beban pokok penjualan jika pengeluaran tersebut terjadi hanya ketika jasa telah diserahkan. Apabila sebaliknya, maka pengeluaran tersebut bukan beban pokok penjualan.

Kesalahpahaman ketiga adalah perlakuan atas aset tetap yang telah disusutkan penuh tetapi masih dapat digunakan. Seringkali perusahaan memiliki bermacam-macam aset tetap yang masih dapat digunakan atau masih berfungsi dengan baik meskipun nilai buku aset tersebut sudah habis. Perusahaan tetap menggunakan aset dalam kegiatan operasional tetapi tidak melakukan apapun terhadap pembukuan aset tersebut. Hal ini bertentangan dengan prinsip pemadanan (matching principle), sehingga perusahaan harus menyesuaikan laporan keuangan sesuai dengan hal-hal yang menyebabkan fenomena tersebut. Dua kemungkinan terbesar penyebab hal ini adalah tingkat keandalan dalam menentukan estimasi masa manfaat aset tetap yang kurang baik dan kesalahan dalam kapitalisasi aset tetap. Dasar pemikirannya adalah apabila nilai buku suatu aset tetap telah habis, maka aset tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi. Tetapi, apabila aset tersebut masih dapat digunakan, maka estimasi masa manfaat yang ditentukan oleh perusahaan terlalu singkat. Apabila manajemen berpendapat bahwa estimasi masa manfaat yang ditentukan cukup andal, maka perusahaan sering membebankan biaya perbaikan, penambahan, atau penggantian komponen aset tetap yang dapat memperpanjang masa manfaat aset tetap sebagai biaya di periode terjadinya pengeluaran biaya, tidak dikapitalisasi ke harga perolehan aset tetap tersebut. Untuk mencegah hal ini terjadi, perusahaan dapat menentukan kebijakan secara tepat, ringkas, dan jelas dalam hal kapitalisasi aset. Di sisi lain, perusahaan dapat melakukan benchmarking masa manfaat aset tetap perusahaan terhadap peraturan perpajakan yang berlaku, atau apabila perusahaan tidak bersedia mengadopsi peraturan perpajakan –perusahaan memiliki dasar penentuan masa manfaat yang lebih panjang daripada peraturan perpajakan atau karena alasan lain, maka perusahaan sebaiknya melakukan penelaahan ulang paling tidak satu tahun sebelum tahun terakhir masa manfaat aset tersebut.

Tiga kesalahpahaman tersebut harus diluruskan oleh manajemen puncak agar laporan keuangan yang dihasilkan tidak menyesatkan pengguna informasi, sehingga perusahaan dapat terhindar dari kerugian finansial maupun non-finansial, baik saat ini maupun di masa mendatang.

   For Further Information, Please Contact Us!