Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

Penerapan Just In Time

26 September 2016
Category: PRODUCTIVITY AND QUALITY
Penulis:         Fakhrorazi, SM
Penerapan Just In Time

Just In Time pertama kali dikembangkan di negara Jepang oleh perusahaan Toyota pada dekade yang lalu, dan kemudian diadopsi oleh banyak Perusahaan Manufaktur di Jepang dan Amerika Serikat seperti: Hewlet Packard, IBM, dan Harley Davidson. Salah satu pendekatan untuk mengeliminasi pemborosan dalam perusahaan manufaktur telah muncul yaitu suatu filosofi operasi yang disebut Just In Time. Just In Time merupakan suatu filosofi operasi manajemen, yaitu sumber daya, termasuk material personel, dan fasilitas yang digunakan dalam keadaan tepat waktu.

Just in Time adalah sebuah filosofi pemecahan masalah secara berkelanjutan dan memaksa yang mendukung produksi yang ramping (lean). Produksi yang ramping (lean Production) memasok pelanggan persis sesuai dengan keinginan pelanggan ketika pelanggan menginginkannya, tanpa pemborosan, melalui perbaikan berkelanjutan (Heizer and Render, 2004,258). Sasaran utama just in time adalah meningkatkan produktivitas system produksi atau operasi dengan cara menghilangkan semua macam kegiatan yang tidak menambah nilai (pemborosan) bagi suatu produk. Sasaran just in time menitikberatkan pada continuous improvement untuk mencapai biaya produksi yang rendah, tingkat produktivitas yang lebih tinggi, kualitas dan realibilitas produk yang lebih baik, memperbaiki waktu penyerahan produk akhir dan memperbaiki hubungan kerja antara pelanggan dengan pemasok (Ariani, 2003). Definisi Just In Time didefinisikan sebagai sistem manajemen pabrikasi dan persediaan komprehensif di mana bahan baku dan berbagai suku cadang dibeli dan diproduksi pada saat diproduksi dan pada saat (just in time) akan digunakan dalam setiap tahap proses produksi/pabrikasi. (Simamora, 2002:105). Menurut Krismiaji (2011:8), ide-ide yang mendukung Just In Time adalah sebagai berikut:

    1.Sederhana adalah lebih baik.

    2.Penekanan pada kualitas dan perbaikan yang berkesinambungan.

    3.Mempertahankan persediaan yang menjadi sumber pemborosan dan pekerjaan jelek yang tersembunyi.

    4.Setiap aktivitas atau fungsi yang tidak menambah nilai harus dihilangkan

    5.Barang diproduksi apabila dibutuhkan.

    6.Pekerja harus berketrampilan banyak dan berpartisipasi dalam memperbaiki efisiensi dan kualitas produk.

Sasaran utama just in time adalah meningkatkan produktivitas system produksi atau operasi dengan cara menghilangkan semua macam kegiatan yang tidak menambah nilai (pemborosan) bagi suatu produk. Sasaran just in time menitikberatkan pada continuous improvement untuk mencapai biaya produksi yang rendah, tingkat produktivitas yang lebih tinggi, kualitas dan realibilitas produk yang lebih baik, memperbaiki waktu penyerahan produk akhir dan memperbaiki hubungan kerja antara pelanggan dengan pemasok Tjahjadi (2001:227) mendefinisikan JIT sebagai “the successful completion of a product or service at each stage of production activity from vendor to customer just in time for its use and at minimum cost. JIT can also be generally defined as a strategy or guiding philosophy whose goal it is to seek manufacturing excellence.

Dalam konsep Just In Time, Simamora, (2002:107) menyatakan terdapat empat aspek fundamental dalam konsep Just In Time, yaitu: (1). Menghilangkan segala aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah bagi seluruh produk atau jasa. Dalam hal ini mencakup seluruh aktifitas atau sumber daya yang menjadi sasaran untuk pengurangan atau penghilangan. (2). Komitmen tinggi terhadap mutu melakukan secara benar segala sesuatunya dari awal adalah esensial manakala tidak ada waktu untuk mengerjakan ulang. Perusahaan perlu memiliki komitmen untuk mencapai dan mempertahankan tingkat mutu yang tinggi dalam semua aspek aktivitas-aktivitas perusahaan. (3). Upaya perbaikan yang berkelanjutan dalam efisiensi aktivitas perusahaan. Perusahaan perlu mencanangkan komitmen terhadap perbaikan berkesinambungan (continuous improvement) pada semua aktivitas perusahaan dan kegunaan data yang dihasilkan bagi manajemennya. Perbaikan yang berkesinambungan adalah pengupayaan terus- menerus nilai yang kian besar yang diberikan kepada pelanggan. (4). Penekanan pada penyederhanaan dan peningkatan visibilitas aktivitas nilai tambah, hal ini membantu untuk mengidentifikasiaktivitas yang tidak menambah nilai.

No

Faktor Pembeda

Just In Time

Tradisional

1

Karakteristik

Pull-Through System

Push-Through System

2

Kuantitas Persediaan

Sedikit

Banyak

3

Struktur Manufaktur

Sel Manufaktur

Struktur Departemen

4

Kualifikasi Tenaga Kerja

Multidisiplin

Spesialis

5

Kebijakan Kualitas

Pengendalian mutu

Toleransi produk cacat

6

Fasilitas Jasa

Tersebar

Terpusat

Ada tujuh faktor kesuksesan Just In Time yaitu:

    1. Suppliers

    2. Layout

    3. Inventory

    4. Scheduling

    5. Preventive Maintenance

    6. Quality

Dalam usaha meningkatkan efisiensi biaya persediaan bahan baku perusahaan dapat menggunakan metode Just In Time, pembelian dilakukan dengan jumlah yang kecil dan pengiriman secara berkala, sehingga dapat menekan terjadinya biaya penyimpanan. Metode Just In Time tidak akan dilakukan tanpa ada komitmen pada pengendalian mutu secara total, dimana pada dasarnya adalah berusaha untuk menyempurnakan mutu agar proses produksi bebas dari

kerusakan. Oleh karena itu, perusahaan harus membuat kontrak jangka panjang yang bersifat saling menguntungkan antar supplier dan perusahaan. Dengan fleksibilitas pengiriman dan kuantitas bahan yang tinggi sehingga biaya inspeksi, pemesanan dan penyimpanan dapat diminimalkan. Keuntungan bagi supplier adalah jaminan keamanan pembelian dalam jangka panjang.

   For Further Information, Please Contact Us!