Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

PERLUKAN MENG-ENGAGE SECARA KHUSUS KARYAWAN MILENNIAL ?

26 September 2016
Category: HUMAN RESOURCE
Penulis:         Dra. I. Novianingtyastuti, Psi
PERLUKAN MENG-ENGAGE SECARA KHUSUS KARYAWAN  MILENNIAL ?

Jika kita cermati di banyak tempat kerja dewasa ini, jumlah karyawan dengan usia sekitar 18-35 tahun yang biasa disebut dengan generasi millennial (Gen Y) makin banyak. Mereka berada dalam kategori usia dewasa dan produktif. Jumlah ini akan makin meningkat dalam tahun-tahun mendatang. Generasi ini akan menggantikan keberadaan generasi Baby Boomer yang sudah mulai pensiun. Data BPS terakhir tahun 2015, di Indonesia terdapat 44,5 juta pekerja Milenial (lahir dalam rentang tahun 1982-1995) yang melesat 180,8% dari tahun 2010, dan sudah mendekati jumlah pekerja Gen-X (lahir dalam rentang tahun 1965-1981) 52,3 juta yang mulai turun -8,2% dibandingkan 2010. Diperkirakan di tahun 2016 ini, pekerja Milenial di Indonesia sudah akan menyamai jumlah pekerja Gen-X atau bahkan melampaui pekerja dari dua generasi di atasnya (Bisnis Indonesia, 17 Juni 2016).

Apa artinya? Tahun 2016 bisa jadi akan menjadi titik awal perubahan suasana kerja di perusahaan-perusahaan di Indonesia. Suka atau tidak suka, kultur generasi Milenial akan mulai mendominasi suasana kerja tahun-tahun mendatang dan konflik-konflik antar generasi akan mulai lebih sering bermunculan.

Memahami Generasi Milenial

Mengapa berpotensimenjadi konflik dengan generasi sebelumnya? Milenial lahir dalam lingkungan dengan akses ke teknologi yang membuat mereka selalu terkoneksi melalu beberapa piranti di rumah dan mengkonsumsi informasi serta berbagai hiburan sejak kecil. Mereka makan sambil nonton TV, belajar sambil mendengarkan musik. Ini yang membuat mereka memiliki kemampuan multitasking tinggi. Mereka mampu bekerja sambil mendengarkan musik, update status di sosial media, bertukar pesan instan WhatsApp, hingga nonton YouTube. Kebiasaan ini yang mereka bawa ke tempat kerja.

Milenial harus terkoneksi 24 jam agar bisa “hidup”. Bagi Milenial, bekerja atau waktu personal sudah blur karena selama mereka terkoneksi, email mereka selalu aktif, dan mereka bisa bekerja kapan pun dan di mana pun, sesuka mereka. Ketergantungan Milenial untuk terus terkoneksi ini lah yang membuat generasi ini memiliki kultur kuat yang membedakan dengan generasi sebelumnya, yaitu: sangat sosial, aktif menjadi bagian dari sebuah komunitas. Mereka berteman, berkomunikasi, berkolaborasi, berbagi, dan bersosialisasi setiap saat, yang dimungkinkan karena kefasihan menggunakan teknologi. Hidup dalam komunitas sudah menjadi jalan hidup yang tidak hanya selalu ada dalam kehidupan personal mereka, tetapi juga dalam kehidupan profesional di tempat kerja.

Bagi Milenial, memiliki teman dan membentuk social circle di kantor adalah keharusan sebagaimana mereka membentuk social circle di dunia maya. Milenial akan merasa engaged dan connected dengan komunitas di kantor. Milenial yang tidak merasa cocok dengan komunitas di kantor dan/atau tidak mampu mewujudkan komunitas mereka, sangat mungkin akan segera pindah pekerjaan.

Komunitas di kantor adalah perwujudan aspek sosial jiwa Milenial yang ingin memiliki koneksi dan kegiatan tidak hanya saat di jam kantor. Tak heran, tumbuh banyak fenomena di mana karyawan Milenial sangat aktif dalam kegiatan sosial bersama di luar jam kerja. Bahkan lebih banyak diskusi jam kerja yang ingin mereka lakukan di pantry atau di warung kopi terdekat karena Milenial merasa lebih engaged dengan suasana yang lebih informal.

Kondisi di atas, di sisi lain membuat mereka dijuluki sebagai notorious job-hoppers (pencari kerja yang “jahat”); yang tidak menyukai birokrasi dan tidak percaya dengan hirarki tradisional. Mereka punya ambisi tinggi dan keinginan berkembang dengan instan. Belum lagi cara kerja Generasi Baby Boomer dan Gen-X yang sangat berbeda dengan cara kerja Milenial -- bekerja dengan headphone terpasang, sering menengok ponsel untuk update status, sering berkonsultasi dengan manajer, lebih suka bekerja di pantry sambil ngobrol dan senang hang-out usai jam kerja.

Berikut adalah tips bagaimana mengelola karyawan Milenial dengan tepat.

1. Dalam rekrutmen, jelaskan visi perusahaan

Mereka ingin “dirayu”. Dalam formulir aplikasi online yang diisi, berikan personal touch. Libatkan senior-level leaders untuk terlibat dalam proses ini, untuk menjelaskan secara spesifik gambaran perusahaan, karir dan kesempatan berkembang. Bisa juga mengajak karyawan gen Y untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

Visi akan sangat membantu mereka dalam memahami makna bekerja. Karyawan Milenial sangat memperhatikan value bekerja dan impactnya terhadap diri mereka. Mereka menyukai waktu kerja yang fleksible. Membantu mereka memahami perannya dalam rencana besar perusahaan akan memberikan sense of purpose dan ini menjadi pendorong produktivitas kerja.

Millenial terbiasa dengan globalisasi dan perbedaan ras maupun budaya. Memberikan kesempatan untuk bekerja dengan lingkungan global, atau yang membuat mereka bertemu dengan beragam level karyawan dalam perusahaan, akan sangat menarik bagi mereka. Hal yang penting, mereka juga ingin melihat bahwa perusahaan juga menghargai perbedaan.

2. Pahami cara kerja yang berbeda

Hal yang menarik, Milenial tidak dapat mengingat tanpa PC, smartphone dan internet. Berbeda dengan Generasi Baby Boomers dan Gen X yang butuh hadir dalam kelas untuk belajar hal baru, mengunjungi perpustakaan untuk riset dan membaca semua materi yang dibutuhkan untuk sukses. Milennial punya cara yang lebih efisien dalam belajar. Mereka menggunakan Wikipedia, Kahn Academy, recorded lectures, mobile study apps dan Google searching.

Cara bekerja generasi baru ini memang berbeda tetapi bukan berarti lebih buruk outcome-nya. Bahkan sebaliknya, mereka adalah generasi yang paling produktif jika bisa dikeloladengan baik dan benar. Milenial mampu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dengan kemampuan multitasking dan keakraban mereka dengan teknologi. Mereka juga generasi yang tidak mengenal jam bekerja. Selama mereka terkoneksi dengan internet, mereka bisa bekerja di mana saja dan kapan saja. Bekerja dan waktu personal telah membaur buat mereka. Mereka juga sangat haus belajar, kreatif dan ingin selalu menemukan terobosan-terobosan baru di bisnis.

Dengan kondisi demikian atasan memiliki peran yang sangat penting bagi karyawan Milenial. Tak heran Milenial lebih sering berkonsultasi dan membutuhkan bimbingan dibandingkan generasi sebelumnya. Adalah krusial bagi para manajer untuk bertransformasi dari manajer standar, yang hanya memberikan tugas dan perintah, menjadi seorang mentor yang memberikan bimbingan untuk kemajuan mereka di pekerjaan. Riset menunjukkan bahwa Milenial berharap mendapatkan bimbingan (guidance), persetujuan (approval), dan penghargaan (appreciation) dari manajer mereka (Deal & Levenson, 2016).

3. Memberikan perhatian terhadap komunitas

Studi yang dilakukan Pew Research Center, 2010 menyatakan bahwa Milennial menempatkan prioritas pada keinginan menolong orang lain (21%) daripada perhatian terhadap karir (15%). Memberikan kesempatan karyawan untuk membentuk komunitas dan menggunakan sumberdaya/waktu perusahaan untuk mengorganisasikan mereka sama dengan mewadahi keinginan mereka terhadap social consciousness. Tunjukkan bahwa perusahaan menghargai hal yang menjadi perhatian mereka. Contoh mengadakan kegiatan kemanusiaan atau kegiatan yang melibatkan kelompok sosial mereka di akhir pekan. Dukungan yang diberikan perusahaan seperti demikian, membantu mereka merasa positif terhadap perusahaan dan otomatis mengisi energi kreatif mereka.

Sebagai generasi yang sangat sosial, bagi Milenial, ada empat kategori orang yang sangat penting bagi mereka untuk ada dalam social circle mereka, yaitu: teman, tim, manajer, dan mentor. Bagi Milenial, hubungan antar orang dalam tim sangatlah krusial. Antar sesama teman, perlu ada hubungan positif dan saling mempercayai sehingga mereka merasa socially connected di tempat kerja yang berujung dengan perasaan connected dengan pekerjaan dan perusahaan tempat mereka bekerja.

4. Manajemen berbasis kompetensi

Gen Milenial mudah bosan dan menginginkan tantangan dalam pekerjaannya. Mereka sangat independen, terbiasa multi-tasking dan tidak merencanakan berada di tempat sama dalam waktu panjang. Karena itu dibandingkan dengan generasi Baby Boomer atau Gen X , Milennial ingin segera mendapatkan kemajuan dalam karirnya dan tidak mau menunggu promosi yang biasanya baru 3 atau 5 tahun. Manajemen karir yang dapat dilakukan adalah bukan berorientasi pada “kotak jabatan” atau senioritas namun berbasis kompetensi dan level kepangkatan. Dengan cara demikian, atasan dapat memenuhi keinginan atas progres karir mereka. Demikian juga dengan memberikan pelatihan dan pengalaman incremental yang akan membantu mereka dalam pengalaman kemajuan karir selanjutnya. Hal lain adalah dengan memberikan kesempatan untuk pindah dari tempat asalnya.

5. Berikan semangat dan feedback secara regulera yang dapat dilakukan tanpa mengeluarkan biaya.

Dengan diberikan dukungan dan umpan balik, mereka merasa diperhatikan. Ucapan “terima kasih,” “selamat” atau feedback tulus dan yang sportif dari atasan dapat menjadikan banyak perbedaan dan mengisi energi motivasi untuk menghasilkan kinerja. Selama ini Milenium sering dikritik karena dianggap menginginkan imbalan yang tidak semestinya, padahal yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara effort yang telah dilakukan dan feedback bagi mereka. Karena itu, pastikan bahwa kita mereward pekerjaan yang baik dan menjaga komunikasi terbuka agar mereka tahu apakah mereka telah mengerjakan pekerjaannya dengan baik dan bagaimana mereka dapat meningkatkannya.

Hal di atas terjadi karena mereka menginginkan kesempatan untuk berkembang dan dibimbing. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain menawarkan program rotasi formal, memberikan tanggungjawab pekerjaan yang beragam, memberikan waktu untuk belajar ekstra secara formal, memberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Eksekutif Senior, menciptakan lingkungan kerja informal dan mendukung mereka dengan Mentor atau Coach. Bisa juga menggunakan reverse mentoring (menggabungkan Milennial dengan Eksekutif Senior) atau group mentoring (menggunakan group/peer sebagai partner mentoring).

6. Menawarkan fleksibilitas

Work-life balance adalah salah satu dorongan paling signifikan untuk mempertahankan karyawan Milennial. Generasi tech-savvy ini lebih menyukai bekerja anytime from anywhere menggunakan koneksi internet. Bekerja dengan waktu panjang dan duduk seharian di belakang meja tidak menarik bagi mereka. Penelitian Griffith Insurance Education Foundation (2012)menemukan bahwa Milennials rela menggunakan uangnya lebih banyak untuk liburan/rekreasi yang juga memungkinkan mereka bekerja di luar kantor. Mereka menginginkan work-life balance dan flexible schedules bagi kehidupan sosial danpribadi mereka. Pilihan alternatif untuk memberikan skedul yang fleksible, kesempatan berkomunikasi jarak jauh atau waktu yang lebih banyak untuk bebas bagi mereka, adalah bagian dari trust yang dibutuhkan oleh mereka. Tawarkan flexi-time; dorong tujuan kesenangan yang memungkinkan mereka untuk bekerja dari lokasi lain dan jangan harapkan mereka akan bekerja dengan cara yang kita lakukan sekarang.

7. Memberikan pendidikan dan pengembangan profesional

Dalam bekerja, Millenial ingin segera mencapai tangga karir “atas” dalam waktu singkat. Menurut survei Adecco, 68% dari lulusan baru mengidentifikasi kesempatan bagus bagi pertumbuhan dan perkembangan sebagai salah satu prioritas utama kehidupan profesional mereka. Mereka “lapar” dan sangat ingin maju. Tidak memberikan program pengembangan, sama seperti menampar wajah mereka. Tunjukkan bagaimana mereka bisa maju dalam perusahaan dengan memberikan gambaran yang realistis tentang kemajuan karirnya dan bahwa perusahaan menghargai kinerja, bukan hanya senioritas. Pilihan lain adalah dengan memberikan project assignment, kesempatan jadi pembicara atau menghadiri conference.

8. Berikan Personal Project

Mereka ingin berkontribusi dalam pekerjaan yang bernilai. Jika ingin merekrut Milenial yang cemerlang, pikirkan tentang bagaimana kita dapat mengoptimalkan talent mereka. Tunjukkan hal yang positif dari perusahaan dan mengapa hal itu menjadi pembeda dengan perusahaan lain, dan di bagian mana Milenial dapat menjadi bagian dari winning team. Peran atasan bukan hanya memerintahkan apa yang harus dikerjakan, namun juga memfasilitasi diskusi dengan mereka dan terlibat dalam tujuan tersebut. Ceritakan dampak dari kesuksesan dari project terhadap karir mereka.

Intinya adalah memberikan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Perusahaan seperti 3M dan Google terbukti sukses dengan menawarkan kebebasan waktu untuk bekerja pada project sesuai dengan pilihannya. Ini membantu mereka merasa lebih terikat dan juga meningkatkan inovasi dalam pekerjaan.

Dari uraian di atas, sebenarnya yang diperlukan bukan hanya untuk meng-engage karyawan Milenial, tapi yang lebih penting adalah “menarik”, memotivasi dan mempertahankan kontributor terbaik yang mereka miliki untuk perusahaan. Sudahkah Anda melakukannya dalam perusahaan ?

   For Further Information, Please Contact Us!