Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

Peran Pemimpin Visioner Dalam Membangun Learning Organization -- Strategi Survival Dalam Kompeti

25 February 2016
Category: HUMAN RESOURCE
Penulis:         Dra. I. Novianingtyastuti, Psi
Peran  Pemimpin Visioner Dalam  Membangun  Learning Organization -- Strategi  Survival Dalam Kompeti

Lingkungan bisnis terus mengalam perubahan dan perkembangan sehingga leader harus mampu memainkan peran sebagai pemimpin visioner dalam menjalankan tugasnya. Pemimpin visioner adalah sosok pemimpin yang mampu menetapkan ke arah mana organisasi dibawa dan bagaimana mencapainya. Pemimpin visioner harus memiliki kemampuan berpikir prediktif, antisipatif, sistemik, holistik, integratif dan komprehensif.

Mengapa butuh pemimpin visioner untuk membangun learning organization ? Karena pemimpin visioner akan mampu menghadapi dan mengantisipasi lingkungan strategis yang terus mengalami perubahan dan perkembangan sehingga mampu mencapai kinerja optimal. Learning organization (Senge, 1990) merupakan organisasi dimana setiap anggotanya secara terus menerus meningkatkan kemampuan untuk menciptakan hasil yang diinginkan. Dalam hal ini pola berpikir baru dan ekspansif ditumbuhkan, aspirasi bersama dibiarkan bebas dan anggota-anggotanya secara terus-menerus belajar bagaimana belajar bersama-sama. Learning organization merupakan paradigma organisasi yang mampu menjadikan organisasi memiliki kapasitas generative learning dan adaptive learning. Perusahaan yang unggul dan menang dalam persaingan ketat bisnis saat ini adalah yang menerapkan learning organization.

Peran pemimpin visioner dalam learning organization

“Tidak ada mesin penggerak organisasi yang lebih bertenaga dalam meraih keunggulan dan keberhasilan masa depan, kecuali visi yang menarik, berpengaruh dan dapat diwujudkan serta mendapat dukungan luas” -- Burt Nanus (2001) Dari pernyataan tersebut, tersirat kekuatan dan peran visi dalam menentukan masa depan organisasi. Untuk menang dalam pertarungan bisnis, organisasi butuh leader yang visioner Leader visioner akan mudah membawa organisasinya bertahan ketika ia juga mengimplementasikan kepemimpinannya dengan membangun learning organization.

Learning organization mensyaratkan iklim pembelajaran yang kondusif, budaya belajar, mengembangkan sumber daya manusia dan proses transformasi organisasi yang berkelanjutan. Dengan demikian diperlukan membangun komitmen belajar bersama, mekanisme perubahan pada diri dan harus terbuka terhadap dunia luar. Learning organization berarti pengujian pengalaman secara terus-menerus dan mengubah pengalaman menjadi pengetahuan yang dapat diakses seluruh anggota organisasi dan relevan dengan tujuan utamanya.

Learning organization hanya dapat terwujud jika anggotanya mampu bersikap fleksible, adaptif dan produktif agar tetap bertahan pada situasi yang cepat berubah. Oleh karena itu perlu menemukan cara untuk mampu menyadap komitmen dan kapasitas organisasi anggotanya agar terus belajar pada semua tataran organisasi. Ini yang dinamakan adaptive learning. Selain itu organisasi juga harus terus mengembangkan kapasitas untuk menciptakan masa depannya. Untuk mencapainya, membutuhkan perubahan pola pikir yang fundamental di antara anggota organisasi. Organisasi juga perlu belajar memperbaiki kapasitas untuk mencipta (generative learning).

Menghadapi situasi vuca (volatile-uncertainty-complexity-ambiguity) saat ini, menjadi keharusan pemimpin visioner agar dapat menerapkan 5 (lima) disiplin dalam learning organization. Intilearning organization adalahbelajar bertahan hidup (adaptive learning) dan belajar memperbaiki kapasitas untuk mencipta (generative learning). Oleh karena itu dalam membentuk learning organization kelima disiplin tersebut dibutuhkan untuk membangun komitmen dan kapasitas anggota organisasi dengan melakukan perubahan pikiran (shift of mind) yang fundamental di antara anggota organisasi melalui proses pembelajaran.

Membangun learning organization secara garis besar dapat dilakukan melalui 5 (lima) disiplin sebagai berikut :

    1.System thinking, merupakan suatu cara berpikir untuk menguraikan dan memahami kekuatan-kekuatan dan hubungan-hubungan antar pribadi yang membentuk perilaku sistim. Disiplin ini membantu kita melihat bagaimana mengubah sistim secara lebih efektif dan bertindak lebih selaras dengan proses atau peristiwa yang lebih besar yang terjadi di sekitar kita.

    2.Personal mastery, merupakan disiplin belajar untuk meningkatkan kapasitas pribadi dengan tujuan menciptakan hasil yang paling diinginkan dan menciptakan lingkungan organisasi yang mendorong semua anggotanya untuk mengembangkan diri ke arah sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan yang dipilih.

    3.Mental model, merupakan disiplin belajar yang terus-menerus melakukan analisa, perenungan, mengklarifikasi dan memperbaiki gambaran-gambaran internal kita tentang dunia dan melihat bagaimana hal itu mempengaruhitindakan dan keputusan kita.

    4.Building shared vision merupakan disipilin membangun rasa mempunyai komitmen dalam suatu kelompok dengan membuat gambaran-gambaran bersama tentang masa depan yang ingin diciptakan dan prinsip-prinsip serta praktek-praktek penuntun yang diharapkan berfungsi sebagai sarana untuk mencapai masa depan.

    5.Team learning merupakan disiplin untuk mengubah kemampuan dan keahlian berpikir kolektif sehingga sekelompok individu dapat diandalkan dan bisa mengembangkan kecerdasan dan kemampuan yang lebih besar dari jumlah potensi para anggotanya secara individual.

Kesamaan mental mode (shared mental mode) akan menumbuhkan semangat kebersamaan di antara para anggota dan menumbuhkan visi bersama (shared vision) yang menghasilkan komitmen bersama menuju terwujudnya learning organization yang mantap. Komitmen bersama akan menghasilkan collective intelligence dalam organisasi sehingga organisasi akan menghasilkan suatu gagasan cemerlang. Selanjutnya organisasi mampu melakukan dan bersikap fleksible, adaptif dan produktif agar dapat tetap bertahan pada situasi yang cepet berubah sekalipun.

Dalam rangka menjalankan perannya, pemimpin visioner harus dapat menemukan makna dari jabatan yang disandang dengan menemukan kapabilitas dan profesionalisme untuk senantiasa mampu melakukan adaptive learning dan generative learning.Kompleksitas masalah yang dihadapi, menuntut perlunya strategi untuk menemukan dan mencari solusi yang tepat atas masalah tersebut. Kompleksitas dan perkembangan masalah tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan satu dimensi tetapi harus multidimensi. Bukan hanya sistematis tetapi harus “sistemis”. Oleh karena itu butuh kemampuan dan ketrampilan systemic thinking yang tinggi.

Dalam memecahkan masalah, systemic thinking mengharuskan pemimpin menemukan struktur masalah yang akan dipecahkan.Struktur masalah dapat ditemukan jika telah mengetahu bagaimana pola perilaku dari masalah tersebut – adanya keajegan dari sebuah kejadian hanya dapat ditemukan jika kita mencermati peristiwa yang terjadi secara berulang. Melalui systemic thinking seseorang akan lebih mudah mengenali dan memahami variabel yang menjadi penyebab timbulnya masalah sekaligus solusi apa yang sebaiknya dipilih berikut dampak apa yang akan muncul. Melalui proses berpikir demikian, masalah yang kompleks sekalipun akan lebih mudah ditemukan dan dipahami.

Melalui personal mastery, seorang pemimpin berlatih untuk mengenali jati diri organisasi dan dirinya sendiri. Seseorang dilatih untuk merumuskan visi pribadi dan organisasiya. Berbekal pada kebaradaan dan visi ini, pemimpin berlatih mencapai kedua visi tersebut. Artinya juga menemukan kendala yang akan muncul serta mencari solusinya. Dengan demikian, seorang pemimpin akan mampu memecahkan masalah dengan beragam tingkat kerumitan dengan tenang dan penuh keanggunan dengan menggunakan kekuatan alamdi bawah sadar melalui proses perenungan dan relaksasi. Dengan demikian seiring tingkat kompleksitas masalah, pemimpin dituntut memiliki tingkat personal mastery yang tinggi pula.

Gambaran masa depan ideal yang dibentuk oleh anggota organisasi hanya dapat terwujud jika masing-masing anggota organisasi mempunyai visi yang sama. Shared vision merupakan visi milik bersama dimana seluruh anggota punya andil dalam mewujudkannya. Visi bersama ini harus mampu menciptakan sense of community. Sebuah organisasi yang telah mampu merumuskan dan memiliki shared vison akan mudah menemukan shared understanding (kesamaam pemahaman).

Kesamaan visi,, tujuan dan pemahaman di antara karyawan memudahkan dalam membangun komitmen bersama (shared commitment), dimana pada akhirnya organisasi mampu membangun learning organization yang kukuh dan andal. Organisasi mampu bertahan hidup dan mampu menghasilkan ide dan gagasan yang cemerlang dan jitu. Building shared vision akan lebih mudah diwujudkan jika para anggota telah memiliki dan menerapkan team learning dalam organisasi. Melalui energi team learning, anggota organisasi dapat saling menghargai satu sama lain sehingga kapasitas tim meningkat. Demikian juga ketrampilan dan keahlian organisasi secara kolektif dapat terbangun sehingga pemikiran menjadi lebih luas dan berkualitas, timbul rasa kebersamaan dan kepemilikian yang kuat. Dimana hal ini dapat dilakukan melalui diskusi dan dialog dengan sesama anggota organisasi.

Ketika pemimpin telah menguasai dan mengaplikasikan kelima disiplin learning organization, maka ia akan selalu berusaha meningkatkan kompetensi dan profesionalitas dalam pelaksanaan tugas. Ia mengenal dengan baik peranannya, dengan senantiasa melakukan adaptasi dan menemukan gagasan yang jitu dan cemerlang sehingga berdampak terhadap peningkatan dan pencapaian target kerja . Jika kondisi ini telah terjadi, artinya ia akan siap dalam menghadapi medan pertempuran bisnis di era MEA yang sekarang telah terbentang di depan mata. (*)

   For Further Information, Please Contact Us!