Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

Menyikapi Perkembangan Media Social Dalam Organisasi

30 January 2016
Category: HUMAN RESOURCE
Penulis:         Indah Yani, S. Psi
Menyikapi Perkembangan Media Social Dalam Organisasi

Di era globalisasi ini, teknologi berkembangbegitu pesat. Generasi sekarang tumbuh tidak hanya di Internet, tapi juga teknologi mobile seperti chatting, bloging, media sharing, dan sekarang jaringan sosial. Berawal dari Friendster, kemudian Facebook yang pada akhirnya cukup membawa gebrakan pesatnya media sosial, lalu diikuti Twitter, Line, What’s App, Path, Instagram, Skype, Foursquare dan masih banyak lainnya. Mau tidak mau menuntut setiap orang yang ada didalamnya untuk bisa menyesuaikan diri. Entah karena ini adalah channel baru dimana batasan waktu dan ruang bukan lagi penghambat bagi transfer komunikasi ataupun informasi sehingga memunculkan animo yang tinggi, atau hanya sekedar ikut-ikutan supaya tidak dianggap sebagai seorang yang tidak mengikuti perkembangan jaman.

Seiring dengan arus informasi dan komunikasi yang berkembang pesat sekali, tentunya diikuti dengan tuntutan pekerjaan juga semakin berkembang dan meningkat. Ditengah aktivitas seorang yang sudah bekerja, maka secara otomatis sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja sehingga tidak banyak lagi waktu yang bisa dilakukan untuk bersosialisasi atau berkomunikasi dengan orang lain. Disini hadirnya media social justru dianggap sebagai angin segar karena memungkinkan seseorang dapat tetap menyalurkan kebutuhan interaksi dan komunikasi dengan orang lain dengan cara yang lebih mudah.

Tidak dapat dipungkiri bahwa di jaman ini segala informasi akan mudah didapatkan dengan begitu cepatnya. Sehingga kondisi inipun pasti mempengaruhi iklim organisasi/ perusahaan secara keseluruhan. Nampaknya hal ini juga dimungkinkan karena masyarakat saat ini dari berbagai generasi sudah mulai “melek teknologi” atau familiar dengan penggunaan teknologi seperti internet ataupun berbagai media social lainnya.

Perkembangan media social ini dapat dianalogikan seperti mata uang logam yang memiliki dua sisi. Disatu sisi, berbagai informasi, akses komunikasi, maupun aktivitas promosi akan lebih mudah dilakukan dan tentunya ini akan mendukung mempercepat pergerakan bisnis perusahaan. Namun disisi lain ada beberapa dampak yang ditimbulkan.

Hal sederhana saja, dewasa ini berapa banyak seorang karyawan yang menggunakan waktu produktif bekerja untuk beraktivitas di media social, yang bisa jadi tidak ada keterkaitannya sama sekali dengan pekerjaan. Tidak hanya itu terkadang berdampak juga pada keengganan seseorang untuk belajar berkomunikasi secara nyata dan terbuka. Mereka justru memilih memposting tentang berbagai hal keluhannya, baik keluhan terhadap pekerjaan, rekan kerja, ataupun keluhannya terhadap perusahaan itu sendiri. Memang hal ini dipengaruhi oleh kematangan pribadi individu itu sendiri, namun dengan akses informasi dan komunikasi yang cepat dewasa ini tentu akan menjadi resiko bagi perusahaan.

Atas dasar resiko tersebut beberapa perusahaan mulai melakukan pembatasan untuk melakukan akses di media social. Namun jika ditelaah kembali apakah perlakuan ini cukup efektif? ataukah perusahaan juga perlu berbenah diri agar dapat melatih dan memfasilitasi karyawan untuk menggunakan social media secara cerdas.

Dalam hal ini Organisasi/ perusahaan menghadapi suatu tantangan untuk internalisasi budaya. Oleh karenanya perlu mengembangkan komunikasi yang efektif dengan karyawannya, serta membentuk rasa kepemilikan karyawan terhadap perusahaan. Bayangkan betapa sulitnya perusahaan/ organisasi menyentuh rasa dan emosi karyawan, jika hubungan yang dibentuk hanya berupa batasan/ aturan tanpa diimbangi dengan personal touch.

   For Further Information, Please Contact Us!