Articles

Read the articles about accounting,internal audit, tax, human resource,information and technology

CHOOSING THE RIGHT DIVERSIFICATION STRATEGY

05 October 2019
Category: ACCOUNTING
Penulis:         Girindra Wardana, S.A.
CHOOSING THE RIGHT DIVERSIFICATION STRATEGY

Kondisi persaingan usaha yang semakin kompleks membuat perusahaan perlu membuat langkah-langkah strategis agar perusahaan tetap bertahan. Salah satu strategi yang biasanya dipertimbangkan oleh perusahaan adalah melakukan diversifikasi produk. Ada empat persyaratan dimana sebuah perusahaan dapat dipertimbangkan layak untuk melakukan diversifikasi, yakni bila perusahaan melihat peluang-peluang untuk mengembangkan bisnis ke industri-industri yang produk maupun teknologinya dapat melengkapi bisnisnya yang ada saat ini, bila perusahaan mampu mengoptimalkan semua sumber daya yang ada serta kemampuannya, hingga keduanya dapat menjadi aset daya saing yang handal, bila dengan melakukan diversifikasi ke bisnis yang berbeda membuka jalan untuk mengurangi biaya, misalnya melalui sharing biaya lintas-bisnis dengan mengoptimalkan pemanfaatan semua sumber daya dan kemampuan perusahaan, bila perusahaan memiliki merek yang kuat yang dapat ditransfer kepada lini usahanya yang lain.

Secara prinsip, diversifikasi tidak dapat dianggap berhasil kecuali hal tersebut menghasilkan sebuah nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham – sebuah nilai tambah yang tidak bisa diperoleh oleh pemegang saham dari membeli lembar-lembar saham industri lain atau dengan berinvestasi di reksadana. Sebuah perusahaan harus melewati tiga tahapan tes dalam memutuskan tindakan diversifikasi bisnis, yakni Tes Daya Tarik Industri, Tes Biaya Masuk ke Bisnis Baru, dan Tes ‘Harus Menjadi Lebih Baik’. Tes daya tarik industri menguji apakah industri (atau bisnis) baru ini memiliki daya tarik yang kuat untuk secara konsisten menghasilkan pengembalian investasi yang sangat baik. Tes Biaya Masuk ke Bisnis Baru menguji apakah biaya yang akan dikeluarkan tidak terlalu membebani potensi keuntungan di masa depan. Sedangkan Tes ‘Harus Menjadi Lebih Baik’ menguji potensi dapat diperoleh diversifikasi, apakah memberikan potensi yang sangat besar bagi perusahaan untuk menjadi lebih baik dan lebih menguntungkan.

Strategi Memasuki Bisnis-Bisnis Baru

Beberapa strategi yang lazim dipakai perusahaan dalam mengembangkan bisnis melalui cara memasuki bisnis-bisnis yang baru yakni akuisisi atas bisnis yang sudah berjalan, pengembangan internal, joint-venture, dan pemilihan cara memasuki bisnis baru. Akuisisi atas bisnis yang sudah berjalan cara paling populer untuk mendiversifikasi lini usaha ke industri yang berbeda. Selain cara ini umumnya lebih cepat dibandingkan membuat perusahaan baru dari nol, cara ini juga menghindarkan kesulitan dan kompleksitas hambatan masuk (entry barriers) seperti sulitnya mendapatkan teknologi, menjalin hubungan dengan pemasok, biaya-biaya awal yang mungkin akan sangat besar terutama untuk iklan dan promosi. Dilema besar yang mungkin akan muncul adalah pada pilihan apakah akan membeli perusahaan yang dalam kondisi sangat bagus tapi mahal atau perusahaan yang sedang goyah sehingga murah.

Pengembangan internal untuk memulai bisnis baru dari waktu ke waktu menjadi salah satu hal penting bagi perusahaan yang akan melakukan diversifikasi. Upaya ini melibatkan pembuatan dan pengembangan bisnis baru mulai dari nol.

Joint-venture atau lebih populer sebagai kongsi atau kemitraan bisnis adalah upaya sebuah perusahaan untuk memiliki secara bersama (co-ownership) serta mengoperasikan bersama unit bisnis baru bersama perusahaan lain.

Pilihan mengenai cara terbaik mana yang akan dipakai untuk memasuki bisnis baru tersebut tergantung dari beberapa hal yang akan dibahas detil demi detil di bagian ini.

Memilih Alur Diversifikasi: Bisnis yang Berkaitan atau Bisnis yang Tak Berkaitan

Diversifikasi melalui bisnis yang masih ada kaitannya dengan bisnis yang sedang dijalankan akan secara kompetitif memiliki ketersesuaian antara mata rantai nilai lintas bisnis yang sangat berharga dan sumber daya-sumber dayanya.

Sementara itu, diversifikasi melalui bisnis baru yang tak ada kaitannya sama sekali dengan bisnis yang sedang berjalan akan memiliki potensi risiko sebaliknya.

Diversifikasi Stratejik dan Ketersesuaian di Dalam Bisnis yang Berkaitan

Strategi diversifikasi bisnis yang berkaitan perlu menempatkan dan membangun perusahaan di suatu kondisi dimana ada ketersesuaian stratejik yang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas mata rantai nilai utama serta aset-aset kompetitifnya.

Ketersesuaian stratejik akan muncul bila satu atau lebih aktivitas yang membentuk mata rantai nilai lini-lini usaha yang berbeda dalam keadaan serupa atau sepadan dengan peluang-peluang yang ada pada saat ini bagi perusahaan untuk mendistribusikan sumber daya-sumber daya serta kemampuannya.

Diversifikasi ke Dalam Bisnis yang Tak Berkaitan

Risiko dari strategi diversifikasi yang tak berkaitan dengan bisnis yang sedang dijalankan, yakni berkurangnya manfaat ketersesuaian stratejik lintas lini usaha. Diversifikasi jenis ini berfokus hanya pada hasil akhir, artinya hanya berpikir bagaimana memasuki bisnis baru, mengoperasikannya dengan maksimal, sehingga pada akhirnya penghasilan dan labanya akan naik. Pertimbangannya relatif dangkal dan pragmatis, sejauh hasil positif bisa didapat, maka kompleksitasnya tidak terlalu dipermasalahkan.Dengan tidak adanya ketersesuaian stratejik lintas lini usaha yang seyogyanya mampu menciptakan keunggulan kompetitif, maka membangun nilai ekonomis pemegang saham melalui cara ini jelas memerlukan kemampuan perusahaan induk untuk memperbaiki bisnis-bisnisnya melalui cara lain.

Ada tiga prinsip bagi perusahaan induk untuk meningkatkan prospek bisnis barunya dan sekaligus meningkatkan nilai ekonomis pemegang saham untuk jangka panjang, yakniPerusahaan induk harus cermat mengelola anak perusahaan, mengalokasikan sumber daya finansial ke lini usaha yang lain dengan penuh perhitungan, serta mengakuisisi dan merestrukturisasi perusahaan-perusahaan di bawah nilai pasar.

***

REFERENSI:

    1.Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2015. Modul Chartered Accountant (CA): Manajemen Strategik dan Kepemimpinan. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

    2.Mowen, Maryanne M., et.al. 2014. Cornerstones of Managerial Accounting, 5th International Edition.Canada, South-Western Cengage Learning.

    3.Wheelen, T.L. and Hunger, J.D. 2012. Concepts in Strategic Management and Business Policy: Toward Global Sustainability 13th Edition. Prentice Hall.

   For Further Information, Please Contact Us!